Peradaban Kuno Dunia
PERADABAN KUNO DUNIA
- PERADABAN
ASIA SELATAN (INDIA)
Perkembangan sejarah Asia Selatan
terutama India sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Tetapi baru ketika
setelah kedatangan bangsa Arya, pengkajian sejarah Asia Selatan kelihatan lebih
nyata. India salah satu pusat peradaban dunia pada masa lampau, selain Cina dan
Timur Tengah dan juga Eropa. Letak peradaban terbesar bangsa India adalah
teletak di Mohenjodaro dan Harapa. Suku asli India adalah bangsa Dravida, yang kemudian eksistensinya sedikit
demi sedikit tergusur loleh kedatangan bangsa Arya dari Asia Barat. Peradaban
India sering disebut dengan peradaban sungai Indus yang dialiri oleh lima anak
sungai yaitu; Yellum, Chenab, Ravi, Beas, Suttly yang kemudian terkenal dengan
sebutan Punjab (Daerah lima Aliran Sungai). Peradaban lembah sungai Indus
sebanding dengan peradaban Mesopotamia, lembah sungai Huangho, dan Mesir,
dengan penduduk asli adalah orang-orang Dravida, mempunyai ciri-ciri berkulit
hitam dan pada saatitu mereka belum mempunyai kepercayaan atau agama yang
tetap. Seperti yang telah disinggung diatas hasil peradaban terbesar lembah
sungai Indus adalah keberadaan kota Mohenjodaro dan Harapa. Kota Mohenjodaro
merupakan gambaran kota pada masa India lama. Disana telah ditemukan bangunan perumahan,
balai besar dan juga pemandian.Bahan pokok dari bangunan-bangunan tersebut adalah
sebuah batu bata merah dengan ukuran kira-kira 25 X 50 X 3,5 inchi. Rumah-rumah
pada kota Mohenjodaro mempunyai halaman-halaman yang luas.
Pasca kedatangan bangsa Arya inilah
proses asimilasi budaya di India berkembang, terutama adalah munculnya agama
Hindu di India. Sebelum secara resmi agama Hindu berkembang, telah terjadi
contact antara bangsa Dravida dan Arya, tetapi pada akhirnya bangsa Dravida
memilih tiga opsi yaitu; kelompok pertama adalah mereka yang menolak kedatangan
bangsa arya dan melawannya sampai kalah. Kelompok kedua adalah yang kemudian
menyingkir ke wilayah lain yaitu deccan dan Bihar, sedangkan kelompok ke tiga
adalah mereka yang kemudian melakukan percampuran dengan ras pendatang, ras
Arya, dan untuk selanjutnya melahirkan kebudayaan baru di India. Letak kota
lembah sungai Indus sendiri tepatnya di daerah perbukitan Baluchistan yang
kemudian menghasilkan kebudayaan Nal. Daerah-daerah yang terletak di sepanjang
sungai Indus kemudian sering disebut dengan kebudayaan Harappa dan Mohenjodaro.
Letak Mohenjodaro dan Harappa sendiri kurang lebih 800 km. Dalam penggalian
terbaru telah banyak ditemukan kota- kota baru di Mohenjodaro dan Harappa. Pada
masa Mohenjodaro dan Harapp telah ditemukan benda- benda yang pada saat itu
sudah merupakan benda yang sangat mengagumkan dengan keunikan dan keelokan
tersendiri.
Dengan sumber-sumber yang telah ada membuktikan
bahwa sungai Indus, tepatnya peradaban lembah sungi Indus telah menjadi salah satu
sumber perdaban di dunia. Padahal pada waktu Indonesia belum berkembang seperti
halnya India, ataupun Mesopotamia, Mesir dan bahkan Eropa. Memang masih sangat
terbatas sumber yang menjelaskan secara detail bentuk peradaban tersebut,
tetapi itu sudah cukup membuktikan bahwa India adalah pusar peradaban dunia.
Oleh sebab itu pada tulisan ini penulis akan mencoba menerangkan dan
menjelaskan beberapa fakta sejarah yang terjadi pada masa kedatangan dan perkembangan
bangsa Arya. Perkembangan-perkembangan itu meliputi banyaknya kerajaan- kerajaan
yang bercorak peradaban Arya, Agama Hindu dan pastinya peradaban-peradaban yang
dihasilkan oleh bangsa Arya.
Pengaruh yang signifikan dari bangsa
Arya yang selama ini banyak dikaji adalah munculnya banyak kerajaan bercorak
Arya. Proses kultural yang berlangsung hingga abad ke-7 sebelum masehi kemudian
melahirkan sejarah politk bangsa India yang sangat panjang. Pada periode ini sumber
sejarah India semakin terang dengan berbagai iniformasi tertulis dari dalam
India maupun dari catatan asing. Beberapa kerajaan penting pada masa awal
perkembangan Arya adalah Gandhara, Kosala, Kasi dan Maghada. Tetapi sampai
sekarang hanya kerajaan-kerajaan yang mempunyai pengaruh besar saja yang dapat
diakses dan dikaji.Hal karena terbatasnya sumber sejarah yang menerangkan
perihal tersebut. Selain itu kita tahu India mempunyai wilayah yang cukup luas,
dan tidak memungkinkan dikaji kerajaan-kerajaan yang tersebar di seantero
India. Dari sekian banyak kerajaan, mungkin yang dapat diakses dan dikaji karena
mempunyai peranan penting dalam perkembangan peradaban di India. Salah satunya adalah
Maghada. Konon pengembangan dan penyebarab agama Budha juga terjadi di daerah
Maghada. Tepatnya Benares . Meskipun agama Budha belum sepenuhnya di kenal oleh
masyrakat luas. Pada masa kerajaan Maghada terdapat beberapa dinasti yang
bergiliran memegang tampuk kepemimpinan di India/Maghada.
- Kesultanan Delhi
Kesultanan
Delhi merujuk pada pemerintahan berdinasti dari Turki dan Afghan yang
berpusat di Delhi, termasuk dinasti Mamluk (1206–90),
dinasti
Khilji (1290–1320), dinasti Tughlaq (1320–1413), dinasti Sayyid (1414–51) dan
dinasti Lodi (1451– 1526). Pada tahun 1526, Kesultanan Delhi dilebur dengan
kemunculan Kesultanan Mughal. Kesultanan ini didirikan pada 1206 oleh
Qutb-ud-din Aybak . Sultan pertama dan tentara Mamluk , budak tentara yang
memilih salah satu dari pemimpin mereka. Pada abad ke-14 posisi raja itu
onaantastbaarder. Di bawah ambisius Sultan Muhammad bin Tughluq hampir seluruh
semenanjung India ditaklukkan, tetapi penaklukan ini terbukti tidak dapat
dipertahankan. Penaklukan Delhi oleh Timur Leng pada tahun 1398 sultan membuat
pengikut Timo riden dan membatasi daerah yang kuat.
- Asal Usul Kerajaan Mughal
Mughal
merupakan kerajaan Islam di anak benua India, dengan Delhi sebagai ibukotanya, berdiri
antara tahun (1526-1858 M). Dinasti Mughal di India didirikan oleh Zahiruddin Muhammad
Babur (1482-1530 M), salah satu cucu dari Timur Lenk dari etnis Mongol,
keturunan Jengis Khan. Ekspansinya ke India dimulai dengan penundukan penguasa
setempat yaitu Ibrahim Lodi dengan Alam Khan (Paman Lodi) dan gubernur Lohere. Ia
berhasil munguasai Punjab dan berhasil menundukkan Delhi, sejak saat itu ia memproklamirkan
berdirinya kerajaan Mughal. Proklamasi 1526 M yang dikumandangkan Babur mendapat
tantangan dari Rajput dan Rana Sanga didukung oleh para kepala suku India
tengah dan umat Islam setempat yang belum tunduk pada penguasa yang baru itu,
sehingga ia harus berhadapan langsung dengan dua kekuatan sekaligus. Tantangan
tersebut dihadapi Babur pada tanggal 16 Maret 1527 M di Khanus dekat Agra.Babur
memperoleh kemenangan dan Rajput jatuh ke dalam kekuasaannya. Penguasa Mughal
setelah Babur adalah Nashiruddin Humayun atau lebih dikenal dengan Humayun
(1530-1540 dan 1555-1556 M), puteranya
sendiri. Sepanjang pemerintahanya tidak stabil, karna banyak terjadi perlawanan
dari musuh-musuhnya. Bahkan beliau sempat mengungsi ke Persia karna mengalami
kekalahan saat melawan pemberontakan Sher Khan di Qonuj, tetapi beliau berhasil
merebut kembali kekuasaanya pada tahun 1555 M berkat bantuan dari kerajaan
safawi. Namun setahun kemudian 1556 M beliau meninggal karna tertimpa tangga pepustakaan,
dan tahta kerajaan selanjutnya dipegang oleh putranya yang bernama Akbar.
Masa
kejayaan kerajaan Mughal dimulai pada pemerintahan Akbar (1556-1506 M), dan
tiga raja penggantinya, yaitu Jehangir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M),
Aurangzeb (1658-1707 M). Setelah itu, kemajuaan kerajaan Mughal tidak dapat
dipertahankan oleh raja-raja berikutnya.
- PERADABAN ASIA TIMUR (CHINA, JEPANG, KOREA)
- China
China
merupakan negara benua, sebagian besar wilayahnya merupakan daratan yang berada
di pusat benua. Sebagai salah satu pusat peradaban tertua di dunia, China
menganggap kebudayaan mereka adalah peradaban terbaik, sementara menganggap
bangsa2 di sekitarnya sebagai bangsa barbar. Di awal pendiriannya, China
merupakan kumpulan dari negara-negara yang saling berperang satu sama lain. Mereka
menyadari bahwa kedamaian dapat dicapai dengan adanya persatuan dari penguasa
tunggal yang kuat. Negara2 yang berperang tersebut akhirnya disatukan oleh
kaisar Qin Shi Huangdi yang membentuk Dinasti Qin pada tahun 221 SM. Persatuan
ini merupakan nilai penting bagi bangsa China sejak saat itu sampai sekarang.
Penerus Dinasti Qin, yaitu Dinasti Han (202 SM – 220 M) merupakan dinasti
terlama yang memerintah China, sehingga orang2 China sejak saat itu menganggap
diri mereka sendiri adalah orang Han. Sejak masa Dinasti Tang (618 M – 845 M),
ketika wilayah China semakin meluas, penduduknya sudah merupakan kumpulan dari berbagai suku
“barbar” sebagai minoritas dan suku Han sebagai mayoritas. Dinasti Tang
menjalankan kebijakan kosmopolitan, dengan membiarkan suku-suku minoritas
memiliki identitas kesukuan mereka tetapi tetap berada dalam wadah besar
kebudayaan Han. Kemunculan suku barbar yang kemudian menguasai beberapa wilayah
China (Jurchen/Manchu dan Liao di timur laut, Tangut di barat) pada masa
Dinasti Sung (960 M – 1260 M) semakin mendambah suku2 minoritas yang menjadi
bagian China. Ketika silih berganti Dinasti Yuan, Ming, dan Qing berkuasa di
China, wilayah China sudah bertambah semakin luas seiring dengan penaklukan2
wilayah sekitar. Puncaknya ketika masa Dinasti Qing, wilayah China adalah
seperti wilayah RRC saat ini dan ditambah wilayah Republik Mongolia. Tentu
saja, wilayah yang luas akan sangat rawan perpecahan. Karena itu, seperti sudah
disinggung tadi, China menerapkan kebijakan kosmopolitan dan toleransi terhadap
penduduk non-Han. Mereka tidak ambil pusing dari suku maupun agama apapun
mereka berasal, yang terpenting mereka berada dalam sebuah kebudayaan besar Han
yang bersatu. Tapi jika suku2 minoritas ini coba2 memisahkan diri dari China,
maka Chinatidak segan2 menghajar habis2an gerakan separatis itu. Contoh
mudahnya antara lain gerakan separatis di Xinjiang-Uighur, gerakan “kembali ke
Mongol” di Mongolia Dalam, maupun pelepasan diri Tibet. Gerakan2 separatis
tersebut ditekan habis2an dan akhirnya berkompromi untuk membentuk daerah
otonomi khusus. Politik kosmopolitan ini juga diterapkan dalam hubungannya dengan
luar negeri, dalam bentuk negara vassal. Negara vassal bisa dikatakan sebagai
negara pengikut yang membayar sejumlah upeti terhadap negara “pelindung”nya
setiap tahunnya. Jika negara vassal dalam bahaya diserang negara lain, maka
negara “pelindung” akan membantu negara vassal tersebut. Jika negara vassal
menolak membayar upeti, maka oleh China hanya akan diabaikan dan mungkin suatu
saat diinvasi. Upeti yang dibayarkan biasanya hanya berupa barang hasil bumi
tak berharga, tetapi oleh China negara vassal itu akan dihadiahi berbagai benda
berharga (porselen, sutera, alat ukur). Jadi pada dasarnya hubungan negara
vassal-pelindung ini mutualisme, karena itu banyak negara2 di sekitarnya, terutama
di jaman Dinasti Yuan (1271-1368) dan Dinasti Ming (1368-1644), yang menjadi
negara vassal bagi China. Contoh negara-negara vassal tersebut antara lain :
Korea, Jepang, Champa (Vietnam), Malaka, Majapahit (ya, Majapahit sempat jadi vassal-nya
Dinasti Ming), Ceylon (Sri Lanka). Jadi, memang sudah sejak dulu bangsa China
lebih suka berkompromi menggunakan materi ketimbang berkonfrontasi langsung
dengan lawan-lawannya
DINASTI-DINASTI CHINA
China
“negara dengan seratus dinasti” disebut demikian karena dinasti yang pernah
berkuasa di cina selalu berganti - ganti dengan rentang waktu yang bervariasi. Dinasti-dinasti
yang pernah berkuasa pada zaman Cina Kuno, antara lain, sebagai berikut:
- Dinasti Xia (2100
SM-1600 SM)
Dinasti
Xia adalah dinasti pertama yang diceritakan dalam catatan sejarah seperti
Catatan Sejarah Agung dan Sejarah Bambu.Dinasti ini didirikan oleh Yu yang
Agung. Sebagian besar arkeolog sekarang menghubungkan Dinasti Xia dengan
hasil-hasil ekskavasi di Erlitou, provinsi Henan,yang berupa temuan perunggu
leburan dari sekitar tahun 2000 SM. Beragam tanda-tanda yang terdapat pada
tembikar dan kulit kerang yang ditemukan pada periode ini, diduga adalah bentuk
pendahulu dari aksara moderen Cina.
- Dinasti Shang (1600 SM-1045 SM)
Dinasti
Shang menurut sumber tradisional adalah dinasti pertama Cina. Menurut kronologi
berdasarkan perhitungan Liu Xin, dinasti ini berkuasa antara 1766 SM dan 1122
SM, sedangkan menurut Sejarah Bambu adalah antara 1556 SM dan 1046 SM. Hasil
dari Proyek Kronologi Xia Shang Zhou pemerintah Republik Rakyat Cina pada tahun
1996 menyimpulkan bahwa dinasti ini memerintah antara 1600 SM sampai 1046 SM.
Informasi langsung tentang dinasti ini berasal dari inskripsi pada artefak perunggu
dan tulang orakel, serta dari Catatan Sejarah Agung (Shiji) karya Sima Qian. Temuan
arkeologi memberikan bukti keberadaan Dinasti Shang sekitar 1600-1046 SM, yang
terbagi menjadi dua periode. Bukti keberadaan Dinasti Shang periode awal (k.
1600-1300 SM) berasal dari penemuan-penemuan di Erlitou, Zhengzhou dan Shangcheng.
Sedangkan bukti keberadaan Dinasti Shang periode kedua (k. 1300–1046 SM) atau
periode Yin, berasal dari kumpulan besar tulisan pada tulang orakel. Para
arkeolog mengkonfirmasikan bahwa kota Anyang di provinsi Henan adalah ibukota terakhir
Dinasti Shang, dari sembilan ibukota lainnya. Dinasti Shang diperintah 31 orang
raja, sejak Raja Tang sampai dengan Raja Zhou sebagai raja terakhir. Masyarakat
Cina masa ini mempercayai banyak dewa, antara lain dewa-dewa cuaca dan langit,
serta dewa tertinggi yang dinamakan Shang-Ti. Mereka juga percaya bahwa nenek
moyang mereka, termasuk orang tua dan kakek-nenek mereka, setelah meninggal
akan menjadi seperti dewa pula dan layak disembah. Sekitar tahun 1500 SM, orang
Cina mulai menggunakan tulang orakel untuk memprediksi masa depan. Para ilmuwan
Barat cenderung ragu-ragu untuk menghubungkan berbagai permukiman yang sezaman
dengan pemukiman Anyang sebagai bagian dari dinasti Shang. Hipotesa terkuat
ialah telah terjadinya ko-eksistensi antara Anyang yang diperintah oleh Dinasti
Shang, dengan pemukiman- pemukiman berbudaya lain di wilayah yang sekarang dikenal
sebagai “Cina sebenarnya” (China proper).
- Dinasti Zhou (1027 SM–256 SM)
Dinasti
Zhou adalah dinasti terlama berkuasa dalam sejarah Cina yang menurut Proyek
Kronologi Xia Shang Zhou berkuasa antara 1046 SM hingga 256 SM. Dinasti ini
mulai tumbuh dari lembah Sungai Kuning, di sebelah barat Shang. Penguasa Zhou,
Wu Wang, berhasil mengalahkan Shang pada Pertempuran Muye. Pada masa Dinasti
Zhou mulailah dikenal konsep “Mandat Langit” sebagai legitimasi pergantian
kekuasaan, dan konsep ini seterusnya berpengaruh pada hampir setiap pergantian
dinasti di Cina. Ibukota Zhou awalnya berada di wilayah barat, yaitu dekat kota
Xi’an moderen sekarang, namun kemudian terjadi serangkaian ekpansi ke arah
lembah Sungai Yangtze. Dalam sejarah Cina, ini menjadi awal dari migrasi- migrasi
penduduk selanjutnya dari utara ke selatan. Pada Dinasti ini banyak bermunculan
tokoh-tokoh seperti Lao Tzu dan Kong Fu Tzu.
- Periode Musim
Semi dan Musim Gugur (722 SM-476 SM)
Pada
sekitar abad ke-8 SM, terjadi desentralisasi kekuasaan pada Periode Musim Semi
dan Musim Gugur, yang diberi nama berdasarkan karya sastra Chun Qiu (Musim Semi
dan Gugur). Pada zaman ini, pimpinan militer lokal yang digunakan Zhou mulai menunjukkan
kekuasaannya dan berlomba-lomba memperoleh hegemoni. Invasi dari barat laut, misalnya
oleh Qin, memaksa Zhou untuk memindahkan ibu kotanya ke timur, yaitu ke Luoyang.
Ini menandai fase kedua Dinasti Zhou: Zhou Timur. Ratusan negara bermunculan,
beberapa di antaranya hanya seluas satu desa, dengan penguasa setempat memegang
kekuasaan politik penuh dan kadang menggunakan gelar kehormatan bagi dirinya. Seratus
Aliran Pemikiran dari filsafat Cina berkembang pada zaman ini, berikut juga
beberapa gerakan intelektual berpengaruh seperti Konfusianisme, Taoisme,
Legalisme, dan Mohisme.
- Periode Negara
Perang (476 SM-221 SM)
Setelah
berbagai konsolidasi politik, tujuh negara terkemuka bertahan pada akhir abad
ke-5 SM. Meskipun saat itu masih terdapat raja dari Dinasti Zhou sampai 256 SM,
namun ia hanya seorang pemimpin nominal yang tidak memiliki kekuasaan yang
nyata. Pada masa itu, daerah tetangga dari negara-negara yang berperang juga
ditaklukkan dan menjadi wilayah baru, antara lain Sichuan dan Liaoning; yang
kemudian diatur di bawah sistem administrasi lokal baru berupa commandery dan prefektur.
Negara Qin berhasil menyatukan ketujuh negara yang ada, serta melakukan
ekspansi ke wilayah-wilayah Zhejiang, Fujian, Guangdong, dan Guangxi pada 214 SM.
Periode saat negara-negara saling berperang hingga penyatuan seluruh Cina oleh Dinasti
Qin pada tahun 221 SM, dikenal dengan nama “Periode Negara Perang“, yaitu
penamaan yang diambil dari nama karya sejarah Zhan Guo Ce (Strategi Negara
Berperang).
- Dinasti Qin/Chin
(221 SM–206 SM)
Dinasti
Qin berhasil menyatukan Cina yang terpecah menjadi beberapa kerajaan pada
Periode Negara Perang melalui serangkaian penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan
lain, dengan penaklukan terakhir adalah terhadap kerajaan Qi pada sekitar tahun
221 SM. Qin Shi Huang dinobatkan menjadi kaisar pertama Cina bersatu pada tahun
tersebut. Dinasti ini terkenal mengawali pembangunan Tembok Besar Cina yang
belakangan diselesaikan oleh Dinasti Ming serta peninggalan Terakota di makam
Qin Shi Huang. Beberapa kontribusi besar Dinasti Qin, antara termasuk
terbentuknya konsep pemerintahan terpusat, penyatuan undang-undang hukum, diterapkannya
bahasa tertulis, satuan pengukuran, dan mata uang bersama seluruh Cina, setelah
berlalunya masa-masa kesengsaraan pada Zaman Musim Semi dan Gugur. Bahkan
hal-hal yang mendasar seperti panjangnya as roda untuk gerobak dagang, saat itu
mengalami penyeragaman demi menjamin berkembangnya sistem perdagangan yang baik
di seluruh kekaisaran.
- Dinasti Han (206 SM–220 M)
Dinasti
Han didirikan oleh Liu Bang, seorang petani yang memimpin pemberontakan rakyat
dan meruntuhkan dinasti sebelumnya, Dinasti Qin, pada tahun 206 SM. Zaman
kekuasaan Dinasti Han terbagi menjadi dua periode yaitu Dinasti Han Barat (206
SM – 9) dan Dinasti Han Timur (23 – 220) yang dipisahkan oleh periode pendek
Dinasti Xin (9 – 23). Kaisar Wu (Han Wudi) berhasil mengeratkan persatuan dan
memperluas kekaisaran Cina dengan mendesak bangsa Xiongnu (sering disamakan
dengan bangsa Hun) ke arah stepa-stepa Mongolia Dalam, dengan demikian merebut
wilayah-wilayah Gansu, Ningxia, dan Qinghai. Hal tersebut menyebabkan terbukanya
untuk pertama kali perdagangan antara Cina dan Eropa, melalui Jalur Sutra.
Jenderal Ban Chao dari Dinasti Han bahkan memperluas penaklukannya melintasi
pegunungan Pamir sampai ke Laut Kaspia.Kedutaan pertama dari Kekaisaran Romawi
tercatat pada sumber-sumber Cina pertama kali dibuka (melalui jalur laut) pada
tahun 166, dan yang kedua pada tahun 284. Pada awalnya, Liu Bang (kaisar Gao)
membagi negara menjadi beberapa negara bagian feodal
dengan
maksud untuk memuaskan para pemimpin negeri yang bergabung dengannya saat
perang Chu-Han, walaupun dia berencana akan menyingkirkan mereka setelah Liu
Bang menggabungkan dan mengkonsolidir pasukannya menjadi kekuatan penuh. Pada
masa dinasti Han, ajaran Konfusius dan Taoisme berkembang pesat.
- Dinasti Sui
(581–618 M)
Dinasti
Sui (Sui Chao) (581 – 618) adalah sebuah dinasti yang menjadi peletak dasar
bagi kejayaan Dinasti Tang sesudahnya. Dinasti ini mempersatukan Cina yang
terpecah belah pada Zaman Enam Belas Negara sebelumnya. Terusan besar dibangun
pada masa dinasti ini. Dinasti ini cukup pendek karena hanya 2 kaisar yang
benar-benar memerintah. Kaisar-kaisar berikutnya hanyalah kaisar boneka yang dipasang
oleh para jenderal dan penguasa militer sebelum akhirnya mereka sendiri
mendirikan dinastinya sendiri. Li Yuan, sepupu Yang Guang, kaisar dinasti Sui yang
kedua, merebut kekuasaan dan mendirikan dinasti Tang. Masa transisi Dinasti
Sui-Tang Masa transisi Sui-Tang (Sui mo Tang chu) adalah masa peralihan dari
Dinasti Sui ke Dinasti
Tang
yang penuh konflik dan pertumpahan darah. Pada masa itu, Cina terpecah-pecah
atas beberapa negara independen yang berumur pendek, negara- negara ini
dipimpin oleh para mantan pejabat dan pemimpin militer Sui dan para pemimpin pemberontakan
petani. Salah satu mantan jenderal Sui bernama Li Yuan akhirnya berhasil mempersatukan
kembali Cina dan mendirikan Dinasti Tang, ia menjadi kaisar pertamanya dengan
gelar Kaisar Tang Gaozu. Periode ini berawal dari tahun 613 ketika Kaisar Yang
dari Sui melakukan kampanye militer melawan Kerajaan Goguryeo, Korea. Perang yang
gagal ini berujung tragedi bagi Cina, banyak pasukan yang dikirim ke Korea
tidak pernah kembali yang selanjutnya berakibat desersi di tubuh militer dan
pemberontakan dari rakyat yang direkrut paksa untuk dikirim dalam kampanye
berikutnya. Periode ini baru berakhir tahun 628 dengan dikalahkannya Kerajaan
Liang, rezim separatis terakhir pimpinan Liang Shidu oleh Kaisar Tang Taizong
(Li Shimin), putra Li Yuan dan kaisar kedua Tang. Runtuhnya Dinasti Sui dan
berdirinya Dinasti Tang Kaisar Yang merasa dirinya aman-aman saja dibawah
perlindungan pasukan elit Xiaoguo di Jiangdu, padahal keadaan negara saat itu
sudah semakin gawat. Ia tidak terlalu peduli untuk menangani pemberontakan dan
hanya mengirim Jenderal Wang Shichong ke Luoyang untuk mempertahankan kota itu
dari serbuan pasukan Li Mi. Kaisar bahkan tidak berniat untuk kembali ke utara
dan bermaksud memindahkan ibukota ke Danyang (sekarang Nanjing, Jiangsu), di
wilayah selatan Sungai Yangtze. Namun anggota pasukan Xiaoguo yang sebagian
besar berasal dari utara dan mengkhawatirkan keluarga mereka disana, mulai melakukan
desersi, mereka yang tertangkap dikenai hukuman berat. Keresahan melanda tubuh
pasukan elit itu sehingga para perwiranya berkomplot untuk melakukan kudeta,
mereka mendukung Yuwen Huaji, Adipati Xu (putra Yuwen Shu) sebagai pemimpin kudeta.
Musim semi 618, mereka melaksanakan rencana itu dan membunuh Kaisar Yang.
Kemudian Yuwen mengangkat keponakan Kaisar Yang, Yang Hao, Pangeran Qin sebagai
kaisar boneka, dan ia sendiri sebagai walinya. Ia lalu bertolak dari Jiangdu ke
utara bersama pasukan Xiaoguo untuk memerangi pemberontak. Kabar kematian
kaisar segera menyebar ke seantero wilayah Cina. Di Chang’an, Li Yuan meresponnya
dengan menuntut Kaisar Gong menyerahkan tahta padanya, ia mendirikan dinasti baru,
Dinasti Tang, dengan dirinya sebagai kaisar pertama. Sementara di Luoyang,
tujuh orang pejabat terkemuka mengangkat cucu lain Kaisar Yang, Yang Tong,
Pangeran Yue, sebagai kaisar dan ia diakui sebagai kaisar yang sah oleh
sebagian besar pos militer yang masih setia pada Sui. Li Mi yang posisinya
terjepit antara pemerintah Sui di Luoyang dan pasukan Yuwen yang sedang menuju utara,
untuk sementara menjalin persekutuan dengan pemerintah di Luoyang dan mengakui
Yang Tong sebagai pemimpin yang sah. Setelah Li mengalahkan Yuwen, Wang
Shichong yang menentang persekutuan itu, mengambil alih kekuasaan dan menjadi
wali atas Yang Tong, dengan demikian persekutuan dengan Li Mi putus. Pada akhir
tahun itu, Wang melakukan serangan dadakan terhadap Li, Li yang kalah terpaksa melarikan
diri ke wilayah Tang. Tahun berikutnya ia mencoba berontak dan dikalahkan
pemerintah Tang, lalu dihukum mati. Di tempat lain, Xue Ju telah wafat pada
awal 618 dan digantikan oleh putranya, Xue Rengao. Li Shimin, Pangeran Qin,
putra Li Yuan, mengalahkan dan membunuh Xue, seluruh wilayah kekuasaannya pun dianeksasi
oleh Tang. Pada saat yang sama, Dou Jiande mengkonsolidasikan wilayahnya di
utara Sungai Kuning, ia mengalahkan dan menghukum mati Yuwen yang telah
meracuni Yang Hao dan mengangkat dirinya sebagai Kaisar Xu, namun Dou tidak
pernah berhasil mengalahkan Luo Yi. Luo sendiri akhirnya menyerah pada
pemerintah Tang. Sementara Zhu Can menghadapi perlawanan sengit dari rakyat
yang membenci kekejamannya, ia mempertimbangkan antara menyerah pada Yang Tong
di Luoyang atau pada Dinasti Tang, dan akhirnya ia memilih pilihan pertama.
Pada musim panas 619, Wang menggulingkan Yang Tong dan mendirikan dinastinya sendiri,
Dinasti Zheng, dengan dirinya sebagai kaisar.
- Dinasti Tang
(618–907 M)
Pada
18 Juni 618, Li Yuan naik tahta dan memulai era Dinasti Tang yang menggantikan
Dinasti Sui. Zaman ini merupakan masa kemakmuran dan perkembangan seni dan
teknologi Cina. Agama Buddha menjadi agama utama yang dianut oleh keluarga
kerajaan serta rakyat kebanyakan. Sejak sekitar tahun 860, Dinasti Tang mulai
mengalami kemunduran karena munculnya pemberontakan- pemberontakan.
- Dinasti Sung
(960-1279 M)
Dinasti
Song (song chao) adalah salah satu dinasti yang memerintah di Cina antara tahun
960 sampai dengan tahun 1279 sebelum Cina diinvasi oleh bangsa Mongol. Dinasti
ini menggantikan periode Lima Dinasti dan Sepuluh Negara dan setelah
kejatuhannya digantikan oleh Dinasti Yuan. Dinasti ini merupakan pemerintahan
pertama di dunia yang mencetak uang kertas dan merupakan dinasti Cina pertama
yang mendirikan angkatan laut. Dalam periode pemerintahan dinasti ini pula,
untuk pertama kalinya bubuk mesiu digunakan dalam peperangan dan kompas digunakan
untuk menentukan arah utara. Dinasti Song dibagi ke dalam dua periode berbeda,
Song Utara dan Song Selatan. Semasa periode Song Utara (960–1127), ibukota Song
terletak di kota Bianjing (sekarang Kaifeng) dan dinasti ini mengontrol
kebanyakan daerah Cina dalam (daerah suku Han bermayoritas). Song Selatan
(1127–1279) merujuk pada periode setelah dinasti Song kehilangan kontrol atas
Cina Utara yang direbut oleh Dinasti Jin. Pada masa periode ini, pemerintahan
Song mundur ke selatan Sungai Yangtze dan mendirikan ibukota di Lin’an
(sekarang Hangzhou). Walaupun Dinasti Song telah kehilangan kontrol atas daerah
asal kelahiran kebudayaan Cina yang berpusat di sekitar Sungai Kuning, ekonomi Dinasti
Song tidaklah jatuh karena 60 persen populasi Cina berada di daerah kekuasaan
Song Selatan dan mayoritas daerah kekuasaannya merupakan tanah pertanian yang
produktif. Dinasti Song Selatan meningkatkan kekuatan angkatan lautnya untuk
mempertahankan daerah maritim dinasti Song. Untuk mendesak Jin dan bangsa Mongol,
dinasti Song mengembangkan teknologi militer yang menggunakan bubuk mesiu. Pada
tahun 1234, Dinasti Jin ditaklukkan oleh bangsa Mongol. Möngke Khan, Khan
ke-empat kekaisaran Mongol, meninggal pada tahun 1259 dalam penyerangan ke sebuah
kota di Chongqing. Saudara lelakinya, Kublai Khan kemudian dinyatakan sebagai
Khan yang baru, walaupun klaim ini hanya diakui oleh sebagian bangsa Mongol di
bagian Barat. Pada tahun 1271, Kubilai Khan dinyatakan sebagai Kaisar Cina.
Setelah peperangan sporadis selama dua dasawarsa, tentara Kubilai Khan berhasil
menaklukkan dinasti Song pada tahun 1279. Cina kemudian disatukan kembali di bawah
Dinasti Yuan (1271–1368). Kehidupan sosial semasa Dinasti Song cukup vibran.
Elit-elit sosial saling berkumpul untuk memamerkan dan memperdagangkan
karya-karya seni berharga, masyarakat saling berkumpul dalam festival-festival
publik dan klub-klub privat, dan di kota-kota terdapat daerah perempatan hiburan
yang semarak. Penyebaran ilmu dan literatur didorong oleh penemuan teknik
percetakan blok kayu yang telah ada dan penemuan percetakan bergerak pada abad
ke-11. Teknologi, sains, filsafat, matematika, dan ilmu teknik pra-modern berkembang
dengan pesat pada masa Dinasti Song. Walaupun institusi seperti ujian pegawai
sipil telah ada sejak masa Dinasti Sui, institusi ini menjadi lebih menonjol
pada periode Song. Hal inilah yang menjadi faktor utama bergesernya elit
bangsawan menjadi elit birokrat.
- Dinasti Yuan
(1279–1368 M)
Dinasti
Yuan (yuan chao) (1279 – 1368) adalah satu dari dua dinasti asing di Cina (yang
lainnya adalah dinasti Qing). Dinasti asing berarti dinasti yang bukan
didirikan oleh orang Han karena di zaman dulu, Han adalah satu-satunya yang
dianggap mewakili entitas China. Dinasti ini didirikan oleh Kublai Khan, cucu
dari Jenghiz Khan yang mendirikan kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia. Walaupun
Kublai Khan secara de-facto adalah pendiri Dinasti Yuan, namun ia menempatkan kakeknya,
Jenghiz Khan sebagai kaisar pertama Dinasti Yuan. Sebelum invasi bangsa Mongol,
laporan dari dinasti-dinasti Cina memperkirakan terdapat sekitar 120 juta
penduduk; namun setelah penaklukan selesai secara menyeluruh pada tahun 1279,
sensus tahun 1300 menyebutkan bahwa terdapat 60 juta penduduk. Demikian pula
pada pemerintahan Dinasti Yuan terjadi epidemi abad ke-14 berupa wabah penyakit
pes (Kematian Hitam), dan diperkirakan telah menewaskan 30% populasi Cina saat
itu.
- Dinasti Ming
(1368–1644)
Sepanjang
masa kekuasaan Dinasti Yuan, terjadi penentangan yang cukup kuat terhadap
kekuasaan asing ini di kalangan masyarakat. Sentimen ini, ditambah sering
timbulnya bencana alam sejak 1340-an, akhirnya menimbulkan pemberontakan petani
yang menumbangkan kekuasaan Dinasti Yuan. Zhu Yuanzhang dari suku Han
mendirikan Dinasti Ming setelah berhasil mengusir Dinasti Yuan pada tahun 1368.
Tahun 1449, Esen Tayisi dari bangsa Mongol Oirat melakukan penyerangan ke
wilayah Cina utara, dan bahkan sampai berhasil menawan Kaisar Zhengtong di
Tumu. Tahun 1542, Altan Khan memimpin bangsa Mongol terus-menerus mengganggu
perbatasan utara Cina, dan pada tahun 1550 ia berhasil menyerang sampai ke pinggiran
kota Beijing. Kekaisaran Dinasti Ming juga menghadapi serangan bajak laut
Jepang di sepanjang garis pantai tenggara Cina; peranan Jenderal Qi Jiguang
sangat penting dalam mengalahkan serangan bajak laut tersebut. Suatu gempa bumi
terdasyat di dunia, gempa bumi Shaanxi tahun 1556, diperkirakan telah
menewaskan sekitar 830.000 penduduk, yang terjadi di masa pemerintahan Kaisar
Jiajing. Selama masa Dinasti Ming, pembangunan terakhir Tembok Besar Cina
selesai dilaksanakan, sebagai usaha perlindungan bagi Cina atas invasi dari bangsa-bangsa
asing. Meskipun pembangunannya telah dimulai di masa sebelumnya, sesungguhnya sebagian
besar tembok yang terlihat saat ini adalah yang telah dibangun atau diperbaiki
oleh Dinasti Ming. Bangunan bata dan granit telah diperluas, menara pengawas
dirancang-ulang, serta meriam-meriam ditempatkan di sepanjang sisinya.
- Dinasti
Qing/Ching (1644–1911 M)
Dinasti
Qing (1644–1911) didirikan menyusul kekalahan Dinasti Ming, dinasti terakhir
Han Cina, oleh suku Manchu (滿族,满族) dari sebelah timur
laut Cina pada tahun 1644. Dinasti ini merupakan dinasti feodal terakhir yang
memerintah Cina. Diperkirakan sekitar 25 juta penduduk tewas dalam periode penaklukan
Manchu atas Dinasti Ming (1616-1644). Bangsa Manchu kemudian mengadopsi
nilai-nilai Konfusianisme dalam pemerintahan mereka, sebagaimana tradisi yang
dilaksanakan oleh pemerintahan dinasti-dinasti pribumi Cina sebelumnya. Pada
Pemberontakan Taiping (1851–1864), sepertiga wilayah Cina sempat jatuh dalam kekuasaan
Taiping Tianguo, suatu gerakan keagamaan kuasi-Kristen yang dipimpin Hong Xiuquan
yang menyebut dirinya “Raja Langit”. Setelah empat belas tahun, barulah
pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan, tentara Taiping dihancurkan dalam
Perang Nanking Ketiga tahun 1864. Kematian yang terjadi selama 15 tahun
pemberontakan tersebut diperkirakan mencapai 20 juta penduduk. Beberapa
pemberontakan yang memakan korban jiwa dan harta yang lebih besar kemudian
terjadi, yaitu Perang Suku Punti-Hakka, Pemberontakan Nien, Pemberontakan
Minoritas Hui, Pemberontakan Panthay, dan Pemberontakan Boxer. Dalam banyak hal,
pemberontakan-pemberontakan tersebut dan perjanjian tidak adil yang berhasil
dipaksakan oleh kekuatan imperialis asing terhadap Dinasti Qing, merupakan
tanda-tanda ketidakmampuan Dinasti Qing dalam menghadapi tantangan-tantangan
baru yang muncul di abad ke-19.
- Jepang
Jepang
merupakan negara kepulauan, dengan 4 pulau utama dan wilayah dikelilingi laut.
Laut tersebut merupakan benteng alami, yang secara tidak langsung menyelamatkan
Jepang dari invasi bangsa asing. Sepanjang sejarah, Jepang hanya takluk oleh
bangsa asing pada akhir Perang Dunia II (yang oleh Commodor Perry di tahun 1854
cuma dipaksa membuka diri, belum takluk). Invasi Mongol 2 kali tahun 1274 dan
1281 gagal total, salah satunya karena badai kamikaze yang “kebetulan” terjadi
dan memporak-porandakan armada Mongol-Yuan. Karena tidak pernah terusik invasi
bangsa asing inilah, maka ancaman terbesar justru datang dari dalam. Orang-orang
Jepang bisa lari kemana-mana jika terjadi pertempuran di antara mereka dan mau
tidak mau harus bertarung sampai penghabisan. Karena itu, orang Jepang
menerapkan karakter “damai” dalam kehidupan mereka. Sekitar abad ke-7, Pangeran
Shotoku menciptakan Undang-undang pertama buat Jepang yang terdiri dari 17 bab,
dengan bab pertama berisi tentang keutamaan perdamaian dan keharmonisan. Tentu
saja, untuk menjembatani semua pihak jika terjadi perselisihan, harus ada pihak/figur
yang “berkekuatan dewa” yang “selalu benar“. Tetapi, tentu saja setiap ada
orang dengan kekuatan muncul, pasti kekuatan lama akan ditantang untuk
dilengserkan. Jika ini terus berlanjut, maka “perdamaian” yang diharapkan
justru tidak akan terjadi. Oleh karena itu, kaisar Jepang yang merupakan “figur
penengah” dianggap sebagai keturunan dewa untuk menjaga agar tetap ada
“pemimpin dari langit” untuk dipuja rakyat. Sebenarnya kaisar tidak mempunyai kekuasaan
apa2 terhadap negerinya. Adalah perdana menteri, kemudian menjadi shogun atau
panglima militer tertinggi, yang memegang kekuasaan atas rakyatnya melalui
pemerintahan bakufu (pemerintahan militeris). Lucunya, jabatan shogun ini juga
diwariskan secara turun temurun. Sepanjang sejarah Jepang terdapat 3 generasi
shogun yang berkuasa cukup lama, yaitu Kamakura/Minamoto (1185-1333), Ashikaga (1333-1573),
dan Tokugawa (1600-1860). Nah, untuk melaksanakan karakter “damai”, orang
Jepang cenderung menghindari kontak dengan orang lain karena khawatir
menyinggung perasaan. Ketika berkomunikasi dengan orang lain pun, mereka
umumnya menggunakan bahasa yang sopan dan cenderung banyak basa basi. Ada
istilah honne dan tattemae dalam komunikasi mereka, dimana honne adalah “maksud
sebenarnya yang terkandung dalam hati” dan tattemae adalah “omongan yang
diucapkan”. Jadi apa yang keluar di mulut belum tentu merupakan maksud
sebenarnya. Saking terbiasanya orang Jepang berkomunikasi dengan mempertimbangkan
“perdamaian“, mereka bisa saling mengerti apa yang dimaksud lawan bicaranya
tanpa harus banyak bicara. Karakteristik ini mirip dengan penduduk pulau di
manapun di bumi ini. Contohnya orang Inggris maupun orang Jawa. Mereka cenderung
menghindari konflik antar sesamanya dan banyak berbasa-basi dalam
berkomunikasi. Selain karakter damai, bangsa Jepang juga berkarakter “harmonis”
dengan pengaruh2 asing yang masuk ke kebudayaannya. Tidak seperti China yang
langsung “melahap” semua pengaruh asing dalam kebudayaan Han bersatu ataupun Korea
yang selalu keras kepala mempertahankan keaslian ke- Korea-annya, Jepang sangat
fleksibel dalam menyikapi pengaruh luar. Mereka menyerap pengaruh luar,
kemudian memprosesnya sedemikian rupa sehingga pengaruh luar itu cocok dengan
mereka, dan menghasilkan hal baru yang berciri Jepang. Awalnya pengaruh luar
yang datang dari China via Korea adalah Konfusianisme, yang digunakan sebagai
filosofi pemerintahan oleh Jepang. Kemudian ketika Buddhisme datang, sudah ada
kepercayaan lokal yaitu Shinto. Untuk menghindari konflik agama, maka
pemerintah saat itu membebaskan rakyatnya untuk memeluk agama apapun. Tiga
aliran kepercayaan itu pun harus rela hidup berdampingan. Dan sebagai hasilnya,
Konfusianisme menjadi filosofi pemerintahan, Shintoisme menjadi simbol negara,
dan Buddha menjadi agama utama. Hal tersebut berlangsung sampai Restorasi Meiji
di tahun 1868. Contoh lain keharmonisan Jepang dalam menyikapi pengaruh luar, bisa
kita lihat dalam kehidupan modern. Budaya natal, valentine, maupun menikah di
gereja merupakan budaya barat yang jelas2 bernuansa Kristen. Tetapi meskipun
penganut Kristen di Jepang tidak ada 1 % nya, budaya itu tetap saja populer di
kalangan masyarakat Jepang. Tentu saja dengan sedikit perubahan khas Jepang,
seperti hanya cewek yang memberi coklat kepada cowok yang disukainya pada
valentine maupun malam natal yang biasa dijadikan “malam pribadi” bersama
pasangan. Jadi, meskipun luarnya tampak sama tapi setelah dilihat dalemnya ternyata
berbeda. Hal yang sama dapat terlihat di Eropa, dengan memposisikan Prancis
sebagai China, Inggris sebagai Jepang, dan negara-negara Balkan sebagai Korea. Dan
ada trivia unik, mayoritas penduduk di Korea saat ini justru penganut Kristen (41%),
melebihi penganut Buddha. Di seluruh Korea (selatan) terdapat 10 ribu gereja,
hal yang cukup jarang terlihat di negara Asia. Sepertinya mereka beramai-ramai memeluk
Kristen ketika misionaris datang pasca perang Korea (1950), dengan pengharapan
menemukan tempat pelarian spiritual setelah tercerai berai karena perang.
Kehidupan beragama masyarakat Korea saat ini masih terjaga dengan baik, meskipun
dalam praktiknya mereka banyak mencampurkan antara ajaran Kristen, Buddha, dan kepercayaan
lokal. Tidak seperti di Jepang yang mulai “mendewakan” rasionalisme maupun di
China yang komunis.
- Korea
Korea
merupakan negara semenanjung. Wilayahnya berupa daratan “perpanjangan” dari
benua Asia di bagian timur, dan dikelilingi laut di ketiga sisinya, dan
kepulauan Jepang di seberang lautan. Posisi ini merupakan posisi strategis
untuk mendapatkan kekuasaan. Negara benua (China) dapat menggunakan semenanjung
sebagai batu loncatan ke pulau seberang, begitu pula negara pulau (Jepang)
dapat menggunakannya untuk menuju benua. Dan sejarah telah membuktikan bahwa
semenanjung Korea telah menjadi incaran bangsa-bangsa di sekitarnya untuk
dikuasai. Karena faktor inilah, bangsa Korea harus selalu siap sedia jika ada
invasi dari bangsa lain. Mereka harus berjuang habis-habisan untuk
mempertahankan diri dan keluarganya. Hasilnya, tidak seperti bangsa China yang suka
kompromi, bangsa Korea sangat keras kepala dan teguh pendirian bahkan cenderung
kolot. Ini dikarenakan, jika mereka menerima kompromi, artinya mereka kalah
sehingga nilai-nilai keaslian Korea akan hilang karena bercampur dengan nilai-nilai
luar yang masuk. Bangsa Korea sangat
menjunjung tinggi keaslian keturunan sebagai identitas ras. Demi keaslian identitas
ras, mereka sangat menghindari perkawinan campuran dengan bangsa lain, karena
dengan bercampur dengan bangsa lain, artinya identitas Korea-nya hilang dan
berarti mereka kalah. Karena itulah mereka menjadi bangsa yang keras kepala dan
“akan melakukan apa saja” untuk melindungi keaslian diri dan keluarga mereka
dan cenderung menolak berkompromi dalam bentuk apapun. Ancaman terhadap Korea
datang dari China, Manchu (Jin/ Jurchen), Mongol, Jepang, dan bajak laut
Jepang. Sampai dengan masa-masa awal Dinasti Koryo (918-1392) bangsa Korea masih
mampu bertahan menghadapi invasi dari tetangga- tetangganya, terutama China.
Tetapi ketika Mongol menyatukan China dalam Dinasti Yuan, Korea tidak bisa
berbuat banyak selain mengakui China/Mongol Yuan sebagai negara “pelindung”nya.
Meskipun demikian, Korea tetap mempertahankan kekeras kepalaannya dalam menjaga
keaslian bangsa Korea dengan melarang percampuran antara bangsa asing dengan
penduduk Korea. Ancaman lainnya datang dari Jepang di tahun 1592 dan 1597.
Toyotomi Hideyoshi yang baru saja menyatukan Jepang melanjutkan ambisinya untuk
menguasai China dengan menggunakan Korea sebagai batu loncatan. Jepang memang
berhasil mendarat di semenanjung Korea (dan bahkan mencapai Seoul), tetapi
armada Jepang dihancurkan armada Korea sehingga pasukan yang berada di darat
terputus suplai logistiknya dan pada akhirnya dapat dikalahkan. Selain keras
kepala dalam mempertahankan identitas Korea- nya, bangsa Korea juga berkarakter
kolektif dengan sesamanya. Ini juga tak lepas dari pengaruh invasi berulangkali
yang mengharuskan mereka bekerja sama untuk mempertahankan identitas bangsa.
Sesama orang Korea dapat dengan mudah cepat akrab dan saling berbagi teritori
pribadi. Mungkin inilah yang membuat Korea memimpin pasar game online, dibandingkan
dengan Jepang yang merajai pasar game console. Karakteristik bangsa Korea
sebenarnya merupakan karakter khas bangsa semenanjung yang keras dan tanpa
kompromi. Anda dapat lihat bangsa-bangsa di semenanjung Balkan maupun semenanjung
Indochina, meskipun berkali-kali diinvasi bangsa asing maupun saling
menginvasi, mereka tetap mempertahankan identitasnya masing-masing sebagai
bangsa tersendiri. Kasus Korea, mereka telah dipersatukan terlebih dahulu di
tahun 57 SM oleh Dinasti Shilla.
- PERADABAN ASIA BARAT DAYA
- Peradaban Mesopotamia
Mesopotamia
dalam pengertian geografis adalah wilayah yang terletak antara sungai Tigris
dan Eufrat, terbentang dari kaki bukit Taurus-Armenia di utara sampai ke Teluk
Persia. Wilayah ini di bagian barat dibatasi oleh padang pasir Syria, dan di
bagian timur dibatasi oleh pegunungan Zagros. Wilayah Mesopotamia secara alami
dibagi ke dalam dua bagian, yaitu Mesopotamia atas dan Mesopotamia Bawah atau
Babilonia (dataran endapan tanah subur yang ada di selatan Bagdad modern. Pada
masa itu Mesopotamia Atas memiliki dua pusat peradaban utama, satu berada di
wilayah Eufrat Atas yang meliputi kota kota-kota tua, seperti Carchemish, Harran,
Gozan, Khabur, dan Mari. Di wilayah ini berdiri kerajaan Hurrian di Mittani
(abad 15 SM) dan kerajaan Amorite di Mari (abad 18 SM). Pusat-pusat yang lain
adalah Tiggris Atas dekat kuala (tempat pertemuan air sungai Zab. Wilayah ini
merupakan kerajaan Assyria dengan kota-kota utamanya, Assur, Ninevah, Calah,
dan Dur Sharrukin. Mesopotamia Bawah, yang merupakan situs bangsa Sumeria dan
Akkadia kuno, secara alami juga terbagi menjadi bagian utara dan selatan.
Bagian utara terpusat di sekitar Babilon, yang meliputi kota-kota, seprti
Eshnunna di Diyala, Sippar, Kutha, Kis, Borsippa, dan Isin di Eufrat. Di bagian
selatan dalam terdapat kota-kota Sumeria lama, yaitu Eridu dan UR, yang
memiliki akses ke Teluk Persia. Jauh ke utara terdapat kota-kota seperti Larsa,
Uruk, Lagash, dan Umma. Nippur, yang berada di pusat negeri adalah sebagai
pusat keagamaan Sumeria dan Akkadia. Tanah bagian selatan ini keadaannya
berawa- rawa. Bangsa ini hidup 4000 SM dan dapat bertahan dengan melakukan
drainase dan instalasi irigasi.
- Peradaban Babylonia Lama
Sebagaimana
telah disinggung, bahwa kebesaran Akkadia runtuh dengan datangnya orang-orang Amoriah
yang sama-sama Semit. Jadi Amoriah merupakan kelompok kedua bangsa Semit yang berhasil
merebut supremasi politik di wilayah lembah Tigris dan Eufrat di bawah
kepemimpinan
Hammurabi
(1792-1750 SM). Hammurabi dikeal sebagai penguasa Babylonia dan penguasa dunia terbesar
sepanjang sejarah kuno. Melalui sejumlah peperangan dan penaklukan, ia berhasil
memperluas wilayah kekuasaannya. Setelah berhasil menyatukun seluruh wilayah
bekas kekuasaan Sumeria-Akkadia, dia menamakan negeri ini Babylonia. Hamurabi adalah
seorang administrator dan sekaligus legislator yang ulung. Dia berhasil
merumuskan dan mengkondifikasikan hukum-hukum yang berlaku di Babylonia. Pada
tahun 1901-1902, seorang ahli arkeolog Perancis yang bernama M. De. Morgan menemukan
susa‟ (sebuah lempengan batu yang di atasnya bertuliskan hukum-hukum yang
dirumuskan Hammurabi. Lempengan ini lalu disebut sebagai kitab hukum tertua.
Kitab hukum ini berisi ketentuan mengenai hak-hak dan kewajiban seluruh warga masyarakat
kerajaan Babylonia. Prinsip hukum yang terdpat di dalamnya adalah “hukuman mata
untuk mata dan gigi untuk gigi”. Kitab hukum ini sangat besar pengaruhnya dalam
penyusunan hukum bangsa Romawi, sedang hukum bangsa Romawi merupakan dasar
penyususnan hukum bangsa Eropa modern. Undang-undang Hamurabi ini menunjukkan adanya
struktur pemerintahan. Undang-undang ini diterapkan di sejumlah negara-kota
Mesopotamia. Kira-kira pertengahan abad ke-17 SM, Hamurabi mengumpulkan
beberapa kode hukum yang ada, kemudian dikompilasikan menjadi undangt-undang yang
seragam dan digunakan di seluruh wilayah Imperium Babilonia. Sekalipun ada
beberapa hukum yang tidak cocok menurut ukuran manusia modern, karena adanya
perlakuan yang kasar terhadap hukum, namun undang-undang Hamurabi merupakan
tahapan yang penting dalam perkembangan umat manusia. Dalam perjalanannya,
kerajaan Hammurabi terancam oleh orang-orang pegunungan di Gutium. Hammurabi
berusaha mencegah ancaman dari Gutium dengan cara menyerang, namun strategi ini
tidak efektif. Hanya sepeuluh tahun seusai penaklukkan-penaklukkan Hamurabi,
pada tahun kedelapan kekuasaan penerusnya, Samsuilun (pada tahun 1743 SM),
orang-orang barbar Kassite yang turun dari Gutium untuk pertama kalinya
melanggar batas Babylonia. Orang-orang barbar Kassite tampaknya telah mendirikan
rezim di Babylonia sekitar tahun 1732. Setelah kematian Hammurabi, sejarah
politik bangsa Babylonia tidak dikenal orang. Suku-suku kecil kemudian
menguasai wilayah ini secara bergantian, sampai pada akhirnya seluruh wilayah
ini ditaklukkan oleh bangsa Assyria.
- Peradaban Assyiria
Munculnya
bangsa Assyria merupakan kisah baru dalam sejarah Iraq. Jadi bangsa Semit
lainnya yang kekuasaannya mendominasi bagian utara wilayah Mesopotamia adalah
bangsa Assyria. Negara kota baru yang tumbuh dan disuplai air dari sungai Tigris
meliputi Ashur, Arbela, Nimrud (atau Calah), dan Nineveh. Sejarah Assyria pada
dasarnya merupakan kisah raja-raja. Melalui pertumpahan darah, mereka
menaklukkan negara demi negara, dan akhirnya mereka berhasil mendirikan
kerajaan Assyria yang kuat. Lantaran kekejaman mereka dalam medan peperangan,
membuat mereka sering dijuluki sebagai momok atau hantu. Dalam setiap peperangan,
mereka selain menjarah juga membantai kehidupan, dan dengan cara demikian ini mereka
merasakan kepuasan. Diketahui, Assyria muncul pada abad ke-14 SM sebagai sebuah
kekuasaan militer. Sekitar tahun 932-745, Assyria mulai melancarkan agresinya terhadap
tetangga-tetangganya. Selama tahun 932-859 SM, Assyria menaklukkan komunitas- komunitas
Aramaen yang telah hidup mapan di sebelah timur sungai Eufrat, persis di ambang
pintu barat wilayah Assyria. Pada tahun 858-856 SM, Shalmaneser III membawa
tentara Assyria memasuki Syria dengan menaklukkan Bit Adini, sebuha negara Aramaen
yang mengangkangi tonjolan barat sungai Eufrat.
Pada
tahun 853 SM, Shalmaneser III menderita kekalahan dari koalisi di Qarqar di
sungai Orontes sebelah utara Hamath (Hamah). Dia kembali menginvansi Syria pada
tahun 849, 848, dan 845 SM. Karena lemahnya koalisi anti-Assyria, maka pada 841
SM dapat memukul Damaskus dan memaksa bekas sekutu Damaskus untuk mengakui
kekuasaan Assyria. Namun demikian, Shalmaneser III menderita kekalahan di
Urartu, dan pada tahun 831 SM dia digulingkan oleh sebuah pemberontakan dalam negeri,
dan akhirnya meninggal pada tahun 824 SM. Demikian pula, pemberontakan ini
melumpuhkan penerusnya. Shamshi-Adad V, sampai tahun 822 SM. Orang-orang Urartu
yang telah bersatu dalam sebuah negara yang kuat berhasil menyaingi Assyria selama
kekuasaan Raja Argistis I (785-753 SM) yang memerintah Syria utara dan Sisilia
timur. Pada tahun 745 SM, daerah-daerah penting dan strategis ini berada di
bawah kendali orang-orang Urartu, bukan Assyria.
Dalam
proses sejarah diceritakan bahwa pada pergolakan tersebut, penguasa kota
Assyria, Nineveh dan Arbela memberontak bersama dengan beberapa provinsi. Pada
746 SM, ibukota Kalkhu bergolak yang mengakibatkan Raja Asshurnirari V
terbunuh, dan tahta ditempati pada tahun 745 oleh seorang pria yang tak dikenal
asal-usulnya dab berpura-pura bernama Tiglath-Pileser III. Selanjutnya,
Shalmaneser V, pengganti Tiglath-Pileser II, telah digantikan oleh seorang raja
dari keluarga yang berbeda, yang dikenal dengan nama Sargon II. Pada masa
Sargon II inilah kerajaan Assyria mendapatkan pencerahan kembali. Sargon II
(722-705 SM) merupakan salah seorang raja yang kejam. Pada tahun 722 SM, dia menaklukkan
Samaria, ibukota kerajaan Israel, dan menahan pembesar-pembesar dari sepuluh
bangsa Israel. Para tahanan ini dikenal sebagai “sepuluh tahanan yang hilang”,
karena keadaan nasib mereka tidak pernah diketahui lagi. Sennacherib, putra Sargon
II, merupakan raja penakluk ulung. Ia berhasil menaklukkan Babylonia, menguasai
Mesir dan Syria. Asshurbanipal (668-626 SM), sebagai cucu Sargon II, merupakan raja
Assyria yang terbesar. Hampir seluruh Asia Barat tunduk pada kekuasaannya.
Setelah kematiannya kerajaan Assyria menurun secara drastis. Bangsa Assyria
asli musnah disebabkan oleh perang yang terjadi terus menerus dan karena wajib militer
bagi tenaga laki-laki sebagai pekerja di koloni bangsa Assyria dan menjadi
pasukan yang ditempatkan di dalam suatu negara yang telah ditaklukkan.
Kekosongan di wilayah tempat tinggal penduduk Assyria dipenuhi oleh pengungsian
orang asing yang masuk, sampai jumlah penduduk dari Assyria menjadi semi orang-orang
Armenia. Selain itu, ketegangan sosial yang terjadi memaksakan penduduk Assyria
untuk terus menerus berpindah untuk meningkatkan jarak yang akan memancing
ketidak teraturan politik dalam negeri. Pada akhirnya di tahun 612 SM Nineveh,
ibu kota kerajaan Assyria diserbu dan ditaklukkan oleh Aryan Medes dari Persia.
Dengan peristiwa ini berakhirlah kekuasaan kerajaan Assyria. Basis ekonomi
Assyria adalah sabuk tanah agrikultural yang kaya di wilayahnya sendiri antara tepi
kiri sungai Tigris dan kaki barat daya dataran Zagros. Jantung Assyria ynag
subur ini lebih luas daripada tanah agrikultur di sekitar Napata yang menjadi
basis ekonomi bagi kekuasaan militer Kush, namun jauh lebih kecil dibandingkan
dengan tanah pertanian di Babylonia. Tidak seperti Babylonia dan Kush, Assyria
sangat bergantung pada bukan irigasi, tetapi curah hujan untuk tanaman
agrikultur. Peradaban Assyria banyak terpengaruh oleh peradaban Babylonia.
Dengan mengambil peradaban bangsa lain, bangsa Assyria mengembangkan peradabannya
hingga hampir ke seluruh penjuru dunia. Sekalipun demikian, mereka tidak
sekedar menjiplak peradaban bangsa lain. Sumbangan peradaban mereka yang asli
adalah dalam bidang seni pahat, arsitektur, dan seni lukis. Sennacherib telah
merubah ibukota Nineveh menghiasinya menjadi kota yang sangat indah, sehingga
berkat keindahannya menjadikan kota ini dijuluki sebagai kota matahari.
Sebagian raja-raja Assyria adalah kaum terpelajar dan sangat mencintai
kepustakaan. Ashurbanibal merupakan seorang raja yang mendirikan sebuah
perpustakaan dengan berbagai kumpulan buku-buku yang luar biasa. Perpustakaan ini
dipandang sebagai satu-satunya peninggalan bangsa Semit yang terpenting.
Seringkali bangsa Assyria dipandang sebagai bangsa “Romawinya- Asia”. Lantaran
sebagaimana bangsa Romawi, Assyria juga berhasil mendirikan kekuasaan yang luas.
Jika bangsa Romawi mengambil peradaban Yunani yang ditaklukkannya kemudian mengembangkan
dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia, demikian juga bangsa Assyria. Mereka
mengambil alih peradaban Babylonia, mengembangkannya dan kemudian
menyebarkannya ke seluruh wilayah kekuasaannya. Sebagaimana bangsa Romawi,
Assyria juga memperkenalkan sistem sentralisai administrasi pemerintahan. Wilayah-wilayah
propinsi dikuasakan kepada seorang kepala wilayah yang bergelar gubernur yang bertanggung
jawab secara langsung kepada raja. Mereka membangun sejumlah jalan raya untuk memperlancar
perhubungan wilayah-wilayah kekuasaannya yang berjauhan. Warisan kerajaan
Assyria berupa alfabet Phoeic dan bahasa versi Armenia. Dalam hal ini alfabet Phoeic
sebagai sarana bahasa Armenia. Untuk menulis alfabet dan bahasa armenia labih
mudah dan lebih cepat karena ditulis di atas daun lontar dibanding menuliskan
di lembaran tanah liat versi Sumeria pada masa Akkadia. Sebuah bas-relief dari istana
Sennacherib pada Nineveh melukiskan dua pelajar Assyria berdiri berdampingan.
- Peradaban Babylonia Baru
Setelah
kekuasaan Assyria mengalami kehancuran dengan matinya raja Asshurbanipal pada tahun
626 SM, bangsa Babylonia bangkit kembali di bawah kekuasaan dinasti Chaldean
atau dinasti Babylonia baru (625-538 SM). Pendiri dinasti ini adalah Nabopolassar.
Pada masanya, daerah sampai perbatasan Mesir dapat ditaklukkan, mengalahkan Raja
Yahudi, Hebrew, dan secara bengis menaklukkan kota Yerusalem pada tahun 586 SM.
Pada
pertengahan abad ke-6 SM, kekuasaan Babylonia-Chaldean ini dikalahkan oleh
bangsa Persia. Bangsa Babylonia menyembah banyak Tuhan, yakni dewa-dewa alam.
Marduk merupakan dewa mereka yang terbesar, sedangkan Isthar diyakini sebagai
dewa kasih sayang. Bentuk utama keyakinan mereka adalah kepercayaan
terhadap-roh-roh jahat. Mereka juga mempercayai ramalan dari langit dan bintang-bintang
mengenai suatu peristiwa yang terjadi. Para ahli nujum Chaldean mahir dalam bidang
perbintangan, sehingga mereka tersohor ke penjuru dunia. Sejarah peradaban
dunia mencatat, bahwa bangsa Babylonia sangat besar peranannya. Bangsa ini
melahirkan banyak pakar dan tenaga ahli dalam bidang pertanian. Mereka menggali
sejumlah sungai unruk keperluan pengairan pertanian di musim kemarau. Selain
itu, mereka juga membuat bendungan untuk melindungi pertanian mereka dari ancaman
banjir di musim hujan. Dalam bidang industri dan perdagangan, bangsa ini telah
mencapai kemajuan. Para pedagang ini menciptakan sistem timbangan dan takaran.
Lebih kurang selama dua ribu tahun, negeri Babylonia menjadi pusat perdagangan
dan perniagaan wilayah lembah sungai Tigris-Eufrat. Pada saat itu bangsa
Babylonia telah mengenal ragam tulisan yang dinamakan cuneiform. Sistem ini dipandang
lebih maju daripada tulisan bangsa Mesir Kuno. Bangsa Babylonia menggunakan
400-500 simbol suku kata. Tidak diketahui apakah mereka telah menggunakan
kertas, tetapi biasanya menggunakan lempengan-lempengan sebagai media tulis.
Dalam
bidang ilmu pengetahuan, Bangsa babylonia telah banyak mencapai kemajuan. Kemajuan
mereka dalam ilmu astronomi mengungguli kemajuan bangsa Mesir. Pengetahuan mereka
dalam bidang astronomi berawal dari hasrat mereka dalam bidang astrologi.
Mereka membagi zodiak ke dalam dua belas simbol dan menyebutkan kedudukan
masing-masing. Mereka mampu meramalkan terjadinya gerhana matahari dan juga bulan.
Demikian pula mereka menggunakan sistem kalender yang lebih maju dibanding
bangsa Mesir. Mereka membagi bilangan tahun menjadi dua belas bulan, membagi malam
dan siang menjadi bilangan jam, dan membagi tujuh bilangan hari dalam satu minggu.
Dalam bidang matematika peran mereka juga sangat besar. Hitungan inilah yang
pada akhirnya dijadikan sebagai rujukan sistem hitungan modern.
Komentar
Posting Komentar