Peradaban Kuno Dunia

PERADABAN KUNO DUNIA

  1. PERADABAN ASIA SELATAN (INDIA)
Perkembangan sejarah Asia Selatan terutama India sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Tetapi baru ketika setelah kedatangan bangsa Arya, pengkajian sejarah Asia Selatan kelihatan lebih nyata. India salah satu pusat peradaban dunia pada masa lampau, selain Cina dan Timur Tengah dan juga Eropa. Letak peradaban terbesar bangsa India adalah teletak di Mohenjodaro dan Harapa. Suku asli India adalah bangsa  Dravida, yang kemudian eksistensinya sedikit demi sedikit tergusur loleh kedatangan bangsa Arya dari Asia Barat. Peradaban India sering disebut dengan peradaban sungai Indus yang dialiri oleh lima anak sungai yaitu; Yellum, Chenab, Ravi, Beas, Suttly yang kemudian terkenal dengan sebutan Punjab (Daerah lima Aliran Sungai). Peradaban lembah sungai Indus sebanding dengan peradaban Mesopotamia, lembah sungai Huangho, dan Mesir, dengan penduduk asli adalah orang-orang Dravida, mempunyai ciri-ciri berkulit hitam dan pada saatitu mereka belum mempunyai kepercayaan atau agama yang tetap. Seperti yang telah disinggung diatas hasil peradaban terbesar lembah sungai Indus adalah keberadaan kota Mohenjodaro dan Harapa. Kota Mohenjodaro merupakan gambaran kota pada masa India lama. Disana telah ditemukan bangunan perumahan, balai besar dan juga pemandian.Bahan pokok dari bangunan-bangunan tersebut adalah sebuah batu bata merah dengan ukuran kira-kira 25 X 50 X 3,5 inchi. Rumah-rumah pada kota Mohenjodaro mempunyai halaman-halaman yang luas.
Pasca kedatangan bangsa Arya inilah proses asimilasi budaya di India berkembang, terutama adalah munculnya agama Hindu di India. Sebelum secara resmi agama Hindu berkembang, telah terjadi contact antara bangsa Dravida dan Arya, tetapi pada akhirnya bangsa Dravida memilih tiga opsi yaitu; kelompok pertama adalah mereka yang menolak kedatangan bangsa arya dan melawannya sampai kalah. Kelompok kedua adalah yang kemudian menyingkir ke wilayah lain yaitu deccan dan Bihar, sedangkan kelompok ke tiga adalah mereka yang kemudian melakukan percampuran dengan ras pendatang, ras Arya, dan untuk selanjutnya melahirkan kebudayaan baru di India. Letak kota lembah sungai Indus sendiri tepatnya di daerah perbukitan Baluchistan yang kemudian menghasilkan kebudayaan Nal. Daerah-daerah yang terletak di sepanjang sungai Indus kemudian sering disebut dengan kebudayaan Harappa dan Mohenjodaro. Letak Mohenjodaro dan Harappa sendiri kurang lebih 800 km. Dalam penggalian terbaru telah banyak ditemukan kota- kota baru di Mohenjodaro dan Harappa. Pada masa Mohenjodaro dan Harapp telah ditemukan benda- benda yang pada saat itu sudah merupakan benda yang sangat mengagumkan dengan keunikan dan keelokan tersendiri.
Dengan sumber-sumber yang telah ada membuktikan bahwa sungai Indus, tepatnya peradaban lembah sungi Indus telah menjadi salah satu sumber perdaban di dunia. Padahal pada waktu Indonesia belum berkembang seperti halnya India, ataupun Mesopotamia, Mesir dan bahkan Eropa. Memang masih sangat terbatas sumber yang menjelaskan secara detail bentuk peradaban tersebut, tetapi itu sudah cukup membuktikan bahwa India adalah pusar peradaban dunia. Oleh sebab itu pada tulisan ini penulis akan mencoba menerangkan dan menjelaskan beberapa fakta sejarah yang terjadi pada masa kedatangan dan perkembangan bangsa Arya. Perkembangan-perkembangan itu meliputi banyaknya kerajaan- kerajaan yang bercorak peradaban Arya, Agama Hindu dan pastinya peradaban-peradaban yang dihasilkan oleh bangsa Arya.
Pengaruh yang signifikan dari bangsa Arya yang selama ini banyak dikaji adalah munculnya banyak kerajaan bercorak Arya. Proses kultural yang berlangsung hingga abad ke-7 sebelum masehi kemudian melahirkan sejarah politk bangsa India yang sangat panjang. Pada periode ini sumber sejarah India semakin terang dengan berbagai iniformasi tertulis dari dalam India maupun dari catatan asing. Beberapa kerajaan penting pada masa awal perkembangan Arya adalah Gandhara, Kosala, Kasi dan Maghada. Tetapi sampai sekarang hanya kerajaan-kerajaan yang mempunyai pengaruh besar saja yang dapat diakses dan dikaji.Hal karena terbatasnya sumber sejarah yang menerangkan perihal tersebut. Selain itu kita tahu India mempunyai wilayah yang cukup luas, dan tidak memungkinkan dikaji kerajaan-kerajaan yang tersebar di seantero India. Dari sekian banyak kerajaan, mungkin yang dapat diakses dan dikaji karena mempunyai peranan penting dalam perkembangan peradaban di India. Salah satunya adalah Maghada. Konon pengembangan dan penyebarab agama Budha juga terjadi di daerah Maghada. Tepatnya Benares . Meskipun agama Budha belum sepenuhnya di kenal oleh masyrakat luas. Pada masa kerajaan Maghada terdapat beberapa dinasti yang bergiliran memegang tampuk kepemimpinan di India/Maghada.

  • Kesultanan Delhi
Kesultanan Delhi merujuk pada pemerintahan berdinasti dari Turki dan Afghan yang berpusat di Delhi, termasuk dinasti Mamluk (1206–90), dinasti Khilji (1290–1320), dinasti Tughlaq (1320–1413), dinasti Sayyid (1414–51) dan dinasti Lodi (1451– 1526). Pada tahun 1526, Kesultanan Delhi dilebur dengan kemunculan Kesultanan Mughal. Kesultanan ini didirikan pada 1206 oleh Qutb-ud-din Aybak . Sultan pertama dan tentara Mamluk , budak tentara yang memilih salah satu dari pemimpin mereka. Pada abad ke-14 posisi raja itu onaantastbaarder. Di bawah ambisius Sultan Muhammad bin Tughluq hampir seluruh semenanjung India ditaklukkan, tetapi penaklukan ini terbukti tidak dapat dipertahankan. Penaklukan Delhi oleh Timur Leng pada tahun 1398 sultan membuat pengikut Timo riden dan membatasi daerah yang kuat.

  • Asal Usul Kerajaan Mughal
Mughal merupakan kerajaan Islam di anak benua India, dengan Delhi sebagai ibukotanya, berdiri antara tahun (1526-1858 M). Dinasti Mughal di India didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur (1482-1530 M), salah satu cucu dari Timur Lenk dari etnis Mongol, keturunan Jengis Khan. Ekspansinya ke India dimulai dengan penundukan penguasa setempat yaitu Ibrahim Lodi dengan Alam Khan (Paman Lodi) dan gubernur Lohere. Ia berhasil munguasai Punjab dan berhasil menundukkan Delhi, sejak saat itu ia memproklamirkan berdirinya kerajaan Mughal. Proklamasi 1526 M yang dikumandangkan Babur mendapat tantangan dari Rajput dan Rana Sanga didukung oleh para kepala suku India tengah dan umat Islam setempat yang belum tunduk pada penguasa yang baru itu, sehingga ia harus berhadapan langsung dengan dua kekuatan sekaligus. Tantangan tersebut dihadapi Babur pada tanggal 16 Maret 1527 M di Khanus dekat Agra.Babur memperoleh kemenangan dan Rajput jatuh ke dalam kekuasaannya. Penguasa Mughal setelah Babur adalah Nashiruddin Humayun atau lebih dikenal dengan Humayun (1530-1540 dan 1555-1556 M),  puteranya sendiri. Sepanjang pemerintahanya tidak stabil, karna banyak terjadi perlawanan dari musuh-musuhnya. Bahkan beliau sempat mengungsi ke Persia karna mengalami kekalahan saat melawan pemberontakan Sher Khan di Qonuj, tetapi beliau berhasil merebut kembali kekuasaanya pada tahun 1555 M berkat bantuan dari kerajaan safawi. Namun setahun kemudian 1556 M beliau meninggal karna tertimpa tangga pepustakaan, dan tahta kerajaan selanjutnya dipegang oleh putranya yang bernama Akbar.
Masa kejayaan kerajaan Mughal dimulai pada pemerintahan Akbar (1556-1506 M), dan tiga raja penggantinya, yaitu Jehangir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M), Aurangzeb (1658-1707 M). Setelah itu, kemajuaan kerajaan Mughal tidak dapat dipertahankan oleh raja-raja berikutnya.

  1. PERADABAN ASIA TIMUR (CHINA, JEPANG, KOREA)
  • China
China merupakan negara benua, sebagian besar wilayahnya merupakan daratan yang berada di pusat benua. Sebagai salah satu pusat peradaban tertua di dunia, China menganggap kebudayaan mereka adalah peradaban terbaik, sementara menganggap bangsa2 di sekitarnya sebagai bangsa barbar. Di awal pendiriannya, China merupakan kumpulan dari negara-negara yang saling berperang satu sama lain. Mereka menyadari bahwa kedamaian dapat dicapai dengan adanya persatuan dari penguasa tunggal yang kuat. Negara2 yang berperang tersebut akhirnya disatukan oleh kaisar Qin Shi Huangdi yang membentuk Dinasti Qin pada tahun 221 SM. Persatuan ini merupakan nilai penting bagi bangsa China sejak saat itu sampai sekarang. Penerus Dinasti Qin, yaitu Dinasti Han (202 SM – 220 M) merupakan dinasti terlama yang memerintah China, sehingga orang2 China sejak saat itu menganggap diri mereka sendiri adalah orang Han. Sejak masa Dinasti Tang (618 M – 845 M), ketika wilayah China semakin meluas, penduduknya  sudah merupakan kumpulan dari berbagai suku “barbar” sebagai minoritas dan suku Han sebagai mayoritas. Dinasti Tang menjalankan kebijakan kosmopolitan, dengan membiarkan suku-suku minoritas memiliki identitas kesukuan mereka tetapi tetap berada dalam wadah besar kebudayaan Han. Kemunculan suku barbar yang kemudian menguasai beberapa wilayah China (Jurchen/Manchu dan Liao di timur laut, Tangut di barat) pada masa Dinasti Sung (960 M – 1260 M) semakin mendambah suku2 minoritas yang menjadi bagian China. Ketika silih berganti Dinasti Yuan, Ming, dan Qing berkuasa di China, wilayah China sudah bertambah semakin luas seiring dengan penaklukan2 wilayah sekitar. Puncaknya ketika masa Dinasti Qing, wilayah China adalah seperti wilayah RRC saat ini dan ditambah wilayah Republik Mongolia. Tentu saja, wilayah yang luas akan sangat rawan perpecahan. Karena itu, seperti sudah disinggung tadi, China menerapkan kebijakan kosmopolitan dan toleransi terhadap penduduk non-Han. Mereka tidak ambil pusing dari suku maupun agama apapun mereka berasal, yang terpenting mereka berada dalam sebuah kebudayaan besar Han yang bersatu. Tapi jika suku2 minoritas ini coba2 memisahkan diri dari China, maka Chinatidak segan2 menghajar habis2an gerakan separatis itu. Contoh mudahnya antara lain gerakan separatis di Xinjiang-Uighur, gerakan “kembali ke Mongol” di Mongolia Dalam, maupun pelepasan diri Tibet. Gerakan2 separatis tersebut ditekan habis2an dan akhirnya berkompromi untuk membentuk daerah otonomi khusus. Politik kosmopolitan ini juga diterapkan dalam hubungannya dengan luar negeri, dalam bentuk negara vassal. Negara vassal bisa dikatakan sebagai negara pengikut yang membayar sejumlah upeti terhadap negara “pelindung”nya setiap tahunnya. Jika negara vassal dalam bahaya diserang negara lain, maka negara “pelindung” akan membantu negara vassal tersebut. Jika negara vassal menolak membayar upeti, maka oleh China hanya akan diabaikan dan mungkin suatu saat diinvasi. Upeti yang dibayarkan biasanya hanya berupa barang hasil bumi tak berharga, tetapi oleh China negara vassal itu akan dihadiahi berbagai benda berharga (porselen, sutera, alat ukur). Jadi pada dasarnya hubungan negara vassal-pelindung ini mutualisme, karena itu banyak negara2 di sekitarnya, terutama di jaman Dinasti Yuan (1271-1368) dan Dinasti Ming (1368-1644), yang menjadi negara vassal bagi China. Contoh negara-negara vassal tersebut antara lain : Korea, Jepang, Champa (Vietnam), Malaka, Majapahit (ya, Majapahit sempat jadi vassal-nya Dinasti Ming), Ceylon (Sri Lanka). Jadi, memang sudah sejak dulu bangsa China lebih suka berkompromi menggunakan materi ketimbang berkonfrontasi langsung dengan lawan-lawannya

DINASTI-DINASTI CHINA
China “negara dengan seratus dinasti” disebut demikian karena dinasti yang pernah berkuasa di cina selalu berganti - ganti dengan rentang waktu yang bervariasi. Dinasti-dinasti yang pernah berkuasa pada zaman Cina Kuno, antara lain, sebagai berikut:

  1.  Dinasti Xia (2100 SM-1600 SM)
Dinasti Xia adalah dinasti pertama yang diceritakan dalam catatan sejarah seperti Catatan Sejarah Agung dan Sejarah Bambu.Dinasti ini didirikan oleh Yu yang Agung. Sebagian besar arkeolog sekarang menghubungkan Dinasti Xia dengan hasil-hasil ekskavasi di Erlitou, provinsi Henan,yang berupa temuan perunggu leburan dari sekitar tahun 2000 SM. Beragam tanda-tanda yang terdapat pada tembikar dan kulit kerang yang ditemukan pada periode ini, diduga adalah bentuk pendahulu dari aksara moderen Cina.

  1. Dinasti Shang (1600 SM-1045 SM)
Dinasti Shang menurut sumber tradisional adalah dinasti pertama Cina. Menurut kronologi berdasarkan perhitungan Liu Xin, dinasti ini berkuasa antara 1766 SM dan 1122 SM, sedangkan menurut Sejarah Bambu adalah antara 1556 SM dan 1046 SM. Hasil dari Proyek Kronologi Xia Shang Zhou pemerintah Republik Rakyat Cina pada tahun 1996 menyimpulkan bahwa dinasti ini memerintah antara 1600 SM sampai 1046 SM. Informasi langsung tentang dinasti ini berasal dari inskripsi pada artefak perunggu dan tulang orakel, serta dari Catatan Sejarah Agung (Shiji) karya Sima Qian. Temuan arkeologi memberikan bukti keberadaan Dinasti Shang sekitar 1600-1046 SM, yang terbagi menjadi dua periode. Bukti keberadaan Dinasti Shang periode awal (k. 1600-1300 SM) berasal dari penemuan-penemuan di Erlitou, Zhengzhou dan Shangcheng. Sedangkan bukti keberadaan Dinasti Shang periode kedua (k. 1300–1046 SM) atau periode Yin, berasal dari kumpulan besar tulisan pada tulang orakel. Para arkeolog mengkonfirmasikan bahwa kota Anyang di provinsi Henan adalah ibukota terakhir Dinasti Shang, dari sembilan ibukota lainnya. Dinasti Shang diperintah 31 orang raja, sejak Raja Tang sampai dengan Raja Zhou sebagai raja terakhir. Masyarakat Cina masa ini mempercayai banyak dewa, antara lain dewa-dewa cuaca dan langit, serta dewa tertinggi yang dinamakan Shang-Ti. Mereka juga percaya bahwa nenek moyang mereka, termasuk orang tua dan kakek-nenek mereka, setelah meninggal akan menjadi seperti dewa pula dan layak disembah. Sekitar tahun 1500 SM, orang Cina mulai menggunakan tulang orakel untuk memprediksi masa depan. Para ilmuwan Barat cenderung ragu-ragu untuk menghubungkan berbagai permukiman yang sezaman dengan pemukiman Anyang sebagai bagian dari dinasti Shang. Hipotesa terkuat ialah telah terjadinya ko-eksistensi antara Anyang yang diperintah oleh Dinasti Shang, dengan pemukiman- pemukiman berbudaya lain di wilayah yang sekarang dikenal sebagai “Cina sebenarnya” (China proper).

  1. Dinasti Zhou (1027 SM–256 SM)
Dinasti Zhou adalah dinasti terlama berkuasa dalam sejarah Cina yang menurut Proyek Kronologi Xia Shang Zhou berkuasa antara 1046 SM hingga 256 SM. Dinasti ini mulai tumbuh dari lembah Sungai Kuning, di sebelah barat Shang. Penguasa Zhou, Wu Wang, berhasil mengalahkan Shang pada Pertempuran Muye. Pada masa Dinasti Zhou mulailah dikenal konsep “Mandat Langit” sebagai legitimasi pergantian kekuasaan, dan konsep ini seterusnya berpengaruh pada hampir setiap pergantian dinasti di Cina. Ibukota Zhou awalnya berada di wilayah barat, yaitu dekat kota Xi’an moderen sekarang, namun kemudian terjadi serangkaian ekpansi ke arah lembah Sungai Yangtze. Dalam sejarah Cina, ini menjadi awal dari migrasi- migrasi penduduk selanjutnya dari utara ke selatan. Pada Dinasti ini banyak bermunculan tokoh-tokoh seperti Lao Tzu dan Kong Fu Tzu.

  1.  Periode Musim Semi dan Musim Gugur (722 SM-476 SM)
Pada sekitar abad ke-8 SM, terjadi desentralisasi kekuasaan pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur, yang diberi nama berdasarkan karya sastra Chun Qiu (Musim Semi dan Gugur). Pada zaman ini, pimpinan militer lokal yang digunakan Zhou mulai menunjukkan kekuasaannya dan berlomba-lomba memperoleh hegemoni. Invasi dari barat laut, misalnya oleh Qin, memaksa Zhou untuk memindahkan ibu kotanya ke timur, yaitu ke Luoyang. Ini menandai fase kedua Dinasti Zhou: Zhou Timur. Ratusan negara bermunculan, beberapa di antaranya hanya seluas satu desa, dengan penguasa setempat memegang kekuasaan politik penuh dan kadang menggunakan gelar kehormatan bagi dirinya. Seratus Aliran Pemikiran dari filsafat Cina berkembang pada zaman ini, berikut juga beberapa gerakan intelektual berpengaruh seperti Konfusianisme, Taoisme, Legalisme, dan Mohisme.

  1.  Periode Negara Perang (476 SM-221 SM)
Setelah berbagai konsolidasi politik, tujuh negara terkemuka bertahan pada akhir abad ke-5 SM. Meskipun saat itu masih terdapat raja dari Dinasti Zhou sampai 256 SM, namun ia hanya seorang pemimpin nominal yang tidak memiliki kekuasaan yang nyata. Pada masa itu, daerah tetangga dari negara-negara yang berperang juga ditaklukkan dan menjadi wilayah baru, antara lain Sichuan dan Liaoning; yang kemudian diatur di bawah sistem administrasi lokal baru berupa commandery dan prefektur. Negara Qin berhasil menyatukan ketujuh negara yang ada, serta melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah Zhejiang, Fujian, Guangdong, dan Guangxi pada 214 SM. Periode saat negara-negara saling berperang hingga penyatuan seluruh Cina oleh Dinasti Qin pada tahun 221 SM, dikenal dengan nama “Periode Negara Perang“, yaitu penamaan yang diambil dari nama karya sejarah Zhan Guo Ce (Strategi Negara Berperang).

  1.  Dinasti Qin/Chin (221 SM–206 SM)
Dinasti Qin berhasil menyatukan Cina yang terpecah menjadi beberapa kerajaan pada Periode Negara Perang melalui serangkaian penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan lain, dengan penaklukan terakhir adalah terhadap kerajaan Qi pada sekitar tahun 221 SM. Qin Shi Huang dinobatkan menjadi kaisar pertama Cina bersatu pada tahun tersebut. Dinasti ini terkenal mengawali pembangunan Tembok Besar Cina yang belakangan diselesaikan oleh Dinasti Ming serta peninggalan Terakota di makam Qin Shi Huang. Beberapa kontribusi besar Dinasti Qin, antara termasuk terbentuknya konsep pemerintahan terpusat, penyatuan undang-undang hukum, diterapkannya bahasa tertulis, satuan pengukuran, dan mata uang bersama seluruh Cina, setelah berlalunya masa-masa kesengsaraan pada Zaman Musim Semi dan Gugur. Bahkan hal-hal yang mendasar seperti panjangnya as roda untuk gerobak dagang, saat itu mengalami penyeragaman demi menjamin berkembangnya sistem perdagangan yang baik di seluruh kekaisaran.

  1. Dinasti Han (206 SM–220 M)
Dinasti Han didirikan oleh Liu Bang, seorang petani yang memimpin pemberontakan rakyat dan meruntuhkan dinasti sebelumnya, Dinasti Qin, pada tahun 206 SM. Zaman kekuasaan Dinasti Han terbagi menjadi dua periode yaitu Dinasti Han Barat (206 SM – 9) dan Dinasti Han Timur (23 – 220) yang dipisahkan oleh periode pendek Dinasti Xin (9 – 23). Kaisar Wu (Han Wudi) berhasil mengeratkan persatuan dan memperluas kekaisaran Cina dengan mendesak bangsa Xiongnu (sering disamakan dengan bangsa Hun) ke arah stepa-stepa Mongolia Dalam, dengan demikian merebut wilayah-wilayah Gansu, Ningxia, dan Qinghai. Hal tersebut menyebabkan terbukanya untuk pertama kali perdagangan antara Cina dan Eropa, melalui Jalur Sutra. Jenderal Ban Chao dari Dinasti Han bahkan memperluas penaklukannya melintasi pegunungan Pamir sampai ke Laut Kaspia.Kedutaan pertama dari Kekaisaran Romawi tercatat pada sumber-sumber Cina pertama kali dibuka (melalui jalur laut) pada tahun 166, dan yang kedua pada tahun 284. Pada awalnya, Liu Bang (kaisar Gao) membagi negara menjadi beberapa negara bagian feodal
dengan maksud untuk memuaskan para pemimpin negeri yang bergabung dengannya saat perang Chu-Han, walaupun dia berencana akan menyingkirkan mereka setelah Liu Bang menggabungkan dan mengkonsolidir pasukannya menjadi kekuatan penuh. Pada masa dinasti Han, ajaran Konfusius dan Taoisme berkembang pesat.

  1.  Dinasti Sui (581–618 M)
Dinasti Sui (Sui Chao) (581 – 618) adalah sebuah dinasti yang menjadi peletak dasar bagi kejayaan Dinasti Tang sesudahnya. Dinasti ini mempersatukan Cina yang terpecah belah pada Zaman Enam Belas Negara sebelumnya. Terusan besar dibangun pada masa dinasti ini. Dinasti ini cukup pendek karena hanya 2 kaisar yang benar-benar memerintah. Kaisar-kaisar berikutnya hanyalah kaisar boneka yang dipasang oleh para jenderal dan penguasa militer sebelum akhirnya mereka sendiri mendirikan dinastinya sendiri. Li Yuan, sepupu Yang Guang, kaisar dinasti Sui yang kedua, merebut kekuasaan dan mendirikan dinasti Tang. Masa transisi Dinasti Sui-Tang Masa transisi Sui-Tang (Sui mo Tang chu) adalah masa peralihan dari Dinasti Sui ke Dinasti
Tang yang penuh konflik dan pertumpahan darah. Pada masa itu, Cina terpecah-pecah atas beberapa negara independen yang berumur pendek, negara- negara ini dipimpin oleh para mantan pejabat dan pemimpin militer Sui dan para pemimpin pemberontakan petani. Salah satu mantan jenderal Sui bernama Li Yuan akhirnya berhasil mempersatukan kembali Cina dan mendirikan Dinasti Tang, ia menjadi kaisar pertamanya dengan gelar Kaisar Tang Gaozu. Periode ini berawal dari tahun 613 ketika Kaisar Yang dari Sui melakukan kampanye militer melawan Kerajaan Goguryeo, Korea. Perang yang gagal ini berujung tragedi bagi Cina, banyak pasukan yang dikirim ke Korea tidak pernah kembali yang selanjutnya berakibat desersi di tubuh militer dan pemberontakan dari rakyat yang direkrut paksa untuk dikirim dalam kampanye berikutnya. Periode ini baru berakhir tahun 628 dengan dikalahkannya Kerajaan Liang, rezim separatis terakhir pimpinan Liang Shidu oleh Kaisar Tang Taizong (Li Shimin), putra Li Yuan dan kaisar kedua Tang. Runtuhnya Dinasti Sui dan berdirinya Dinasti Tang Kaisar Yang merasa dirinya aman-aman saja dibawah perlindungan pasukan elit Xiaoguo di Jiangdu, padahal keadaan negara saat itu sudah semakin gawat. Ia tidak terlalu peduli untuk menangani pemberontakan dan hanya mengirim Jenderal Wang Shichong ke Luoyang untuk mempertahankan kota itu dari serbuan pasukan Li Mi. Kaisar bahkan tidak berniat untuk kembali ke utara dan bermaksud memindahkan ibukota ke Danyang (sekarang Nanjing, Jiangsu), di wilayah selatan Sungai Yangtze. Namun anggota pasukan Xiaoguo yang sebagian besar berasal dari utara dan mengkhawatirkan keluarga mereka disana, mulai melakukan desersi, mereka yang tertangkap dikenai hukuman berat. Keresahan melanda tubuh pasukan elit itu sehingga para perwiranya berkomplot untuk melakukan kudeta, mereka mendukung Yuwen Huaji, Adipati Xu (putra Yuwen Shu) sebagai pemimpin kudeta. Musim semi 618, mereka melaksanakan rencana itu dan membunuh Kaisar Yang. Kemudian Yuwen mengangkat keponakan Kaisar Yang, Yang Hao, Pangeran Qin sebagai kaisar boneka, dan ia sendiri sebagai walinya. Ia lalu bertolak dari Jiangdu ke utara bersama pasukan Xiaoguo untuk memerangi pemberontak. Kabar kematian kaisar segera menyebar ke seantero wilayah Cina. Di Chang’an, Li Yuan meresponnya dengan menuntut Kaisar Gong menyerahkan tahta padanya, ia mendirikan dinasti baru, Dinasti Tang, dengan dirinya sebagai kaisar pertama. Sementara di Luoyang, tujuh orang pejabat terkemuka mengangkat cucu lain Kaisar Yang, Yang Tong, Pangeran Yue, sebagai kaisar dan ia diakui sebagai kaisar yang sah oleh sebagian besar pos militer yang masih setia pada Sui. Li Mi yang posisinya terjepit antara pemerintah Sui di Luoyang dan pasukan Yuwen yang sedang menuju utara, untuk sementara menjalin persekutuan dengan pemerintah di Luoyang dan mengakui Yang Tong sebagai pemimpin yang sah. Setelah Li mengalahkan Yuwen, Wang Shichong yang menentang persekutuan itu, mengambil alih kekuasaan dan menjadi wali atas Yang Tong, dengan demikian persekutuan dengan Li Mi putus. Pada akhir tahun itu, Wang melakukan serangan dadakan terhadap Li, Li yang kalah terpaksa melarikan diri ke wilayah Tang. Tahun berikutnya ia mencoba berontak dan dikalahkan pemerintah Tang, lalu dihukum mati. Di tempat lain, Xue Ju telah wafat pada awal 618 dan digantikan oleh putranya, Xue Rengao. Li Shimin, Pangeran Qin, putra Li Yuan, mengalahkan dan membunuh Xue, seluruh wilayah kekuasaannya pun dianeksasi oleh Tang. Pada saat yang sama, Dou Jiande mengkonsolidasikan wilayahnya di utara Sungai Kuning, ia mengalahkan dan menghukum mati Yuwen yang telah meracuni Yang Hao dan mengangkat dirinya sebagai Kaisar Xu, namun Dou tidak pernah berhasil mengalahkan Luo Yi. Luo sendiri akhirnya menyerah pada pemerintah Tang. Sementara Zhu Can menghadapi perlawanan sengit dari rakyat yang membenci kekejamannya, ia mempertimbangkan antara menyerah pada Yang Tong di Luoyang atau pada Dinasti Tang, dan akhirnya ia memilih pilihan pertama. Pada musim panas 619, Wang menggulingkan Yang Tong dan mendirikan dinastinya sendiri, Dinasti Zheng, dengan dirinya sebagai kaisar.

  1.  Dinasti Tang (618–907 M)
Pada 18 Juni 618, Li Yuan naik tahta dan memulai era Dinasti Tang yang menggantikan Dinasti Sui. Zaman ini merupakan masa kemakmuran dan perkembangan seni dan teknologi Cina. Agama Buddha menjadi agama utama yang dianut oleh keluarga kerajaan serta rakyat kebanyakan. Sejak sekitar tahun 860, Dinasti Tang mulai mengalami kemunduran karena munculnya pemberontakan- pemberontakan.

  1.  Dinasti Sung (960-1279 M)
Dinasti Song (song chao) adalah salah satu dinasti yang memerintah di Cina antara tahun 960 sampai dengan tahun 1279 sebelum Cina diinvasi oleh bangsa Mongol. Dinasti ini menggantikan periode Lima Dinasti dan Sepuluh Negara dan setelah kejatuhannya digantikan oleh Dinasti Yuan. Dinasti ini merupakan pemerintahan pertama di dunia yang mencetak uang kertas dan merupakan dinasti Cina pertama yang mendirikan angkatan laut. Dalam periode pemerintahan dinasti ini pula, untuk pertama kalinya bubuk mesiu digunakan dalam peperangan dan kompas digunakan untuk menentukan arah utara. Dinasti Song dibagi ke dalam dua periode berbeda, Song Utara dan Song Selatan. Semasa periode Song Utara (960–1127), ibukota Song terletak di kota Bianjing (sekarang Kaifeng) dan dinasti ini mengontrol kebanyakan daerah Cina dalam (daerah suku Han bermayoritas). Song Selatan (1127–1279) merujuk pada periode setelah dinasti Song kehilangan kontrol atas Cina Utara yang direbut oleh Dinasti Jin. Pada masa periode ini, pemerintahan Song mundur ke selatan Sungai Yangtze dan mendirikan ibukota di Lin’an (sekarang Hangzhou). Walaupun Dinasti Song telah kehilangan kontrol atas daerah asal kelahiran kebudayaan Cina yang berpusat di sekitar Sungai Kuning, ekonomi Dinasti Song tidaklah jatuh karena 60 persen populasi Cina berada di daerah kekuasaan Song Selatan dan mayoritas daerah kekuasaannya merupakan tanah pertanian yang produktif. Dinasti Song Selatan meningkatkan kekuatan angkatan lautnya untuk mempertahankan daerah maritim dinasti Song. Untuk mendesak Jin dan bangsa Mongol, dinasti Song mengembangkan teknologi militer yang menggunakan bubuk mesiu. Pada tahun 1234, Dinasti Jin ditaklukkan oleh bangsa Mongol. Möngke Khan, Khan ke-empat kekaisaran Mongol, meninggal pada tahun 1259 dalam penyerangan ke sebuah kota di Chongqing. Saudara lelakinya, Kublai Khan kemudian dinyatakan sebagai Khan yang baru, walaupun klaim ini hanya diakui oleh sebagian bangsa Mongol di bagian Barat. Pada tahun 1271, Kubilai Khan dinyatakan sebagai Kaisar Cina. Setelah peperangan sporadis selama dua dasawarsa, tentara Kubilai Khan berhasil menaklukkan dinasti Song pada tahun 1279. Cina kemudian disatukan kembali di bawah Dinasti Yuan (1271–1368). Kehidupan sosial semasa Dinasti Song cukup vibran. Elit-elit sosial saling berkumpul untuk memamerkan dan memperdagangkan karya-karya seni berharga, masyarakat saling berkumpul dalam festival-festival publik dan klub-klub privat, dan di kota-kota terdapat daerah perempatan hiburan yang semarak. Penyebaran ilmu dan literatur didorong oleh penemuan teknik percetakan blok kayu yang telah ada dan penemuan percetakan bergerak pada abad ke-11. Teknologi, sains, filsafat, matematika, dan ilmu teknik pra-modern berkembang dengan pesat pada masa Dinasti Song. Walaupun institusi seperti ujian pegawai sipil telah ada sejak masa Dinasti Sui, institusi ini menjadi lebih menonjol pada periode Song. Hal inilah yang menjadi faktor utama bergesernya elit bangsawan menjadi elit birokrat.

  1.  Dinasti Yuan (1279–1368 M)
Dinasti Yuan (yuan chao) (1279 – 1368) adalah satu dari dua dinasti asing di Cina (yang lainnya adalah dinasti Qing). Dinasti asing berarti dinasti yang bukan didirikan oleh orang Han karena di zaman dulu, Han adalah satu-satunya yang dianggap mewakili entitas China. Dinasti ini didirikan oleh Kublai Khan, cucu dari Jenghiz Khan yang mendirikan kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia. Walaupun Kublai Khan secara de-facto adalah pendiri Dinasti Yuan, namun ia menempatkan kakeknya, Jenghiz Khan sebagai kaisar pertama Dinasti Yuan. Sebelum invasi bangsa Mongol, laporan dari dinasti-dinasti Cina memperkirakan terdapat sekitar 120 juta penduduk; namun setelah penaklukan selesai secara menyeluruh pada tahun 1279, sensus tahun 1300 menyebutkan bahwa terdapat 60 juta penduduk. Demikian pula pada pemerintahan Dinasti Yuan terjadi epidemi abad ke-14 berupa wabah penyakit pes (Kematian Hitam), dan diperkirakan telah menewaskan 30% populasi Cina saat itu.

  1.  Dinasti Ming (1368–1644)
Sepanjang masa kekuasaan Dinasti Yuan, terjadi penentangan yang cukup kuat terhadap kekuasaan asing ini di kalangan masyarakat. Sentimen ini, ditambah sering timbulnya bencana alam sejak 1340-an, akhirnya menimbulkan pemberontakan petani yang menumbangkan kekuasaan Dinasti Yuan. Zhu Yuanzhang dari suku Han mendirikan Dinasti Ming setelah berhasil mengusir Dinasti Yuan pada tahun 1368. Tahun 1449, Esen Tayisi dari bangsa Mongol Oirat melakukan penyerangan ke wilayah Cina utara, dan bahkan sampai berhasil menawan Kaisar Zhengtong di Tumu. Tahun 1542, Altan Khan memimpin bangsa Mongol terus-menerus mengganggu perbatasan utara Cina, dan pada tahun 1550 ia berhasil menyerang sampai ke pinggiran kota Beijing. Kekaisaran Dinasti Ming juga menghadapi serangan bajak laut Jepang di sepanjang garis pantai tenggara Cina; peranan Jenderal Qi Jiguang sangat penting dalam mengalahkan serangan bajak laut tersebut. Suatu gempa bumi terdasyat di dunia, gempa bumi Shaanxi tahun 1556, diperkirakan telah menewaskan sekitar 830.000 penduduk, yang terjadi di masa pemerintahan Kaisar Jiajing. Selama masa Dinasti Ming, pembangunan terakhir Tembok Besar Cina selesai dilaksanakan, sebagai usaha perlindungan bagi Cina atas invasi dari bangsa-bangsa asing. Meskipun pembangunannya telah dimulai di masa sebelumnya, sesungguhnya sebagian besar tembok yang terlihat saat ini adalah yang telah dibangun atau diperbaiki oleh Dinasti Ming. Bangunan bata dan granit telah diperluas, menara pengawas dirancang-ulang, serta meriam-meriam ditempatkan di sepanjang sisinya.

  1.  Dinasti Qing/Ching (1644–1911 M)
Dinasti Qing (1644–1911) didirikan menyusul kekalahan Dinasti Ming, dinasti terakhir Han Cina, oleh suku Manchu (滿族,满族) dari sebelah timur laut Cina pada tahun 1644. Dinasti ini merupakan dinasti feodal terakhir yang memerintah Cina. Diperkirakan sekitar 25 juta penduduk tewas dalam periode penaklukan Manchu atas Dinasti Ming (1616-1644). Bangsa Manchu kemudian mengadopsi nilai-nilai Konfusianisme dalam pemerintahan mereka, sebagaimana tradisi yang dilaksanakan oleh pemerintahan dinasti-dinasti pribumi Cina sebelumnya. Pada Pemberontakan Taiping (1851–1864), sepertiga wilayah Cina sempat jatuh dalam kekuasaan Taiping Tianguo, suatu gerakan keagamaan kuasi-Kristen yang dipimpin Hong Xiuquan yang menyebut dirinya “Raja Langit”. Setelah empat belas tahun, barulah pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan, tentara Taiping dihancurkan dalam Perang Nanking Ketiga tahun 1864. Kematian yang terjadi selama 15 tahun pemberontakan tersebut diperkirakan mencapai 20 juta penduduk. Beberapa pemberontakan yang memakan korban jiwa dan harta yang lebih besar kemudian terjadi, yaitu Perang Suku Punti-Hakka, Pemberontakan Nien, Pemberontakan Minoritas Hui, Pemberontakan Panthay, dan Pemberontakan Boxer. Dalam banyak hal, pemberontakan-pemberontakan tersebut dan perjanjian tidak adil yang berhasil dipaksakan oleh kekuatan imperialis asing terhadap Dinasti Qing, merupakan tanda-tanda ketidakmampuan Dinasti Qing dalam menghadapi tantangan-tantangan baru yang muncul di abad ke-19.

  • Jepang
Jepang merupakan negara kepulauan, dengan 4 pulau utama dan wilayah dikelilingi laut. Laut tersebut merupakan benteng alami, yang secara tidak langsung menyelamatkan Jepang dari invasi bangsa asing. Sepanjang sejarah, Jepang hanya takluk oleh bangsa asing pada akhir Perang Dunia II (yang oleh Commodor Perry di tahun 1854 cuma dipaksa membuka diri, belum takluk). Invasi Mongol 2 kali tahun 1274 dan 1281 gagal total, salah satunya karena badai kamikaze yang “kebetulan” terjadi dan memporak-porandakan armada Mongol-Yuan. Karena tidak pernah terusik invasi bangsa asing inilah, maka ancaman terbesar justru datang dari dalam. Orang-orang Jepang bisa lari kemana-mana jika terjadi pertempuran di antara mereka dan mau tidak mau harus bertarung sampai penghabisan. Karena itu, orang Jepang menerapkan karakter “damai” dalam kehidupan mereka. Sekitar abad ke-7, Pangeran Shotoku menciptakan Undang-undang pertama buat Jepang yang terdiri dari 17 bab, dengan bab pertama berisi tentang keutamaan perdamaian dan keharmonisan. Tentu saja, untuk menjembatani semua pihak jika terjadi perselisihan, harus ada pihak/figur yang “berkekuatan dewa” yang “selalu benar“. Tetapi, tentu saja setiap ada orang dengan kekuatan muncul, pasti kekuatan lama akan ditantang untuk dilengserkan. Jika ini terus berlanjut, maka “perdamaian” yang diharapkan justru tidak akan terjadi. Oleh karena itu, kaisar Jepang yang merupakan “figur penengah” dianggap sebagai keturunan dewa untuk menjaga agar tetap ada “pemimpin dari langit” untuk dipuja rakyat. Sebenarnya kaisar tidak mempunyai kekuasaan apa2 terhadap negerinya. Adalah perdana menteri, kemudian menjadi shogun atau panglima militer tertinggi, yang memegang kekuasaan atas rakyatnya melalui pemerintahan bakufu (pemerintahan militeris). Lucunya, jabatan shogun ini juga diwariskan secara turun temurun. Sepanjang sejarah Jepang terdapat 3 generasi shogun yang berkuasa cukup lama, yaitu Kamakura/Minamoto (1185-1333), Ashikaga (1333-1573), dan Tokugawa (1600-1860). Nah, untuk melaksanakan karakter “damai”, orang Jepang cenderung menghindari kontak dengan orang lain karena khawatir menyinggung perasaan. Ketika berkomunikasi dengan orang lain pun, mereka umumnya menggunakan bahasa yang sopan dan cenderung banyak basa basi. Ada istilah honne dan tattemae dalam komunikasi mereka, dimana honne adalah “maksud sebenarnya yang terkandung dalam hati” dan tattemae adalah “omongan yang diucapkan”. Jadi apa yang keluar di mulut belum tentu merupakan maksud sebenarnya. Saking terbiasanya orang Jepang berkomunikasi dengan mempertimbangkan “perdamaian“, mereka bisa saling mengerti apa yang dimaksud lawan bicaranya tanpa harus banyak bicara. Karakteristik ini mirip dengan penduduk pulau di manapun di bumi ini. Contohnya orang Inggris maupun orang Jawa. Mereka cenderung menghindari konflik antar sesamanya dan banyak berbasa-basi dalam berkomunikasi. Selain karakter damai, bangsa Jepang juga berkarakter “harmonis” dengan pengaruh2 asing yang masuk ke kebudayaannya. Tidak seperti China yang langsung “melahap” semua pengaruh asing dalam kebudayaan Han bersatu ataupun Korea yang selalu keras kepala mempertahankan keaslian ke- Korea-annya, Jepang sangat fleksibel dalam menyikapi pengaruh luar. Mereka menyerap pengaruh luar, kemudian memprosesnya sedemikian rupa sehingga pengaruh luar itu cocok dengan mereka, dan menghasilkan hal baru yang berciri Jepang. Awalnya pengaruh luar yang datang dari China via Korea adalah Konfusianisme, yang digunakan sebagai filosofi pemerintahan oleh Jepang. Kemudian ketika Buddhisme datang, sudah ada kepercayaan lokal yaitu Shinto. Untuk menghindari konflik agama, maka pemerintah saat itu membebaskan rakyatnya untuk memeluk agama apapun. Tiga aliran kepercayaan itu pun harus rela hidup berdampingan. Dan sebagai hasilnya, Konfusianisme menjadi filosofi pemerintahan, Shintoisme menjadi simbol negara, dan Buddha menjadi agama utama. Hal tersebut berlangsung sampai Restorasi Meiji di tahun 1868. Contoh lain keharmonisan Jepang dalam menyikapi pengaruh luar, bisa kita lihat dalam kehidupan modern. Budaya natal, valentine, maupun menikah di gereja merupakan budaya barat yang jelas2 bernuansa Kristen. Tetapi meskipun penganut Kristen di Jepang tidak ada 1 % nya, budaya itu tetap saja populer di kalangan masyarakat Jepang. Tentu saja dengan sedikit perubahan khas Jepang, seperti hanya cewek yang memberi coklat kepada cowok yang disukainya pada valentine maupun malam natal yang biasa dijadikan “malam pribadi” bersama pasangan. Jadi, meskipun luarnya tampak sama tapi setelah dilihat dalemnya ternyata berbeda. Hal yang sama dapat terlihat di Eropa, dengan memposisikan Prancis sebagai China, Inggris sebagai Jepang, dan negara-negara Balkan sebagai Korea. Dan ada trivia unik, mayoritas penduduk di Korea saat ini justru penganut Kristen (41%), melebihi penganut Buddha. Di seluruh Korea (selatan) terdapat 10 ribu gereja, hal yang cukup jarang terlihat di negara Asia. Sepertinya mereka beramai-ramai memeluk Kristen ketika misionaris datang pasca perang Korea (1950), dengan pengharapan menemukan tempat pelarian spiritual setelah tercerai berai karena perang. Kehidupan beragama masyarakat Korea saat ini masih terjaga dengan baik, meskipun dalam praktiknya mereka banyak mencampurkan antara ajaran Kristen, Buddha, dan kepercayaan lokal. Tidak seperti di Jepang yang mulai “mendewakan” rasionalisme maupun di China yang komunis.

  • Korea
Korea merupakan negara semenanjung. Wilayahnya berupa daratan “perpanjangan” dari benua Asia di bagian timur, dan dikelilingi laut di ketiga sisinya, dan kepulauan Jepang di seberang lautan. Posisi ini merupakan posisi strategis untuk mendapatkan kekuasaan. Negara benua (China) dapat menggunakan semenanjung sebagai batu loncatan ke pulau seberang, begitu pula negara pulau (Jepang) dapat menggunakannya untuk menuju benua. Dan sejarah telah membuktikan bahwa semenanjung Korea telah menjadi incaran bangsa-bangsa di sekitarnya untuk dikuasai. Karena faktor inilah, bangsa Korea harus selalu siap sedia jika ada invasi dari bangsa lain. Mereka harus berjuang habis-habisan untuk mempertahankan diri dan keluarganya. Hasilnya, tidak seperti bangsa China yang suka kompromi, bangsa Korea sangat keras kepala dan teguh pendirian bahkan cenderung kolot. Ini dikarenakan, jika mereka menerima kompromi, artinya mereka kalah sehingga nilai-nilai keaslian Korea akan hilang karena bercampur dengan nilai-nilai  luar yang masuk. Bangsa Korea sangat menjunjung tinggi keaslian keturunan sebagai identitas ras. Demi keaslian identitas ras, mereka sangat menghindari perkawinan campuran dengan bangsa lain, karena dengan bercampur dengan bangsa lain, artinya identitas Korea-nya hilang dan berarti mereka kalah. Karena itulah mereka menjadi bangsa yang keras kepala dan “akan melakukan apa saja” untuk melindungi keaslian diri dan keluarga mereka dan cenderung menolak berkompromi dalam bentuk apapun. Ancaman terhadap Korea datang dari China, Manchu (Jin/ Jurchen), Mongol, Jepang, dan bajak laut Jepang. Sampai dengan masa-masa awal Dinasti Koryo (918-1392) bangsa Korea masih mampu bertahan menghadapi invasi dari tetangga- tetangganya, terutama China. Tetapi ketika Mongol menyatukan China dalam Dinasti Yuan, Korea tidak bisa berbuat banyak selain mengakui China/Mongol Yuan sebagai negara “pelindung”nya. Meskipun demikian, Korea tetap mempertahankan kekeras kepalaannya dalam menjaga keaslian bangsa Korea dengan melarang percampuran antara bangsa asing dengan penduduk Korea. Ancaman lainnya datang dari Jepang di tahun 1592 dan 1597. Toyotomi Hideyoshi yang baru saja menyatukan Jepang melanjutkan ambisinya untuk menguasai China dengan menggunakan Korea sebagai batu loncatan. Jepang memang berhasil mendarat di semenanjung Korea (dan bahkan mencapai Seoul), tetapi armada Jepang dihancurkan armada Korea sehingga pasukan yang berada di darat terputus suplai logistiknya dan pada akhirnya dapat dikalahkan. Selain keras kepala dalam mempertahankan identitas Korea- nya, bangsa Korea juga berkarakter kolektif dengan sesamanya. Ini juga tak lepas dari pengaruh invasi berulangkali yang mengharuskan mereka bekerja sama untuk mempertahankan identitas bangsa. Sesama orang Korea dapat dengan mudah cepat akrab dan saling berbagi teritori pribadi. Mungkin inilah yang membuat Korea memimpin pasar game online, dibandingkan dengan Jepang yang merajai pasar game console. Karakteristik bangsa Korea sebenarnya merupakan karakter khas bangsa semenanjung yang keras dan tanpa kompromi. Anda dapat lihat bangsa-bangsa di semenanjung Balkan maupun semenanjung Indochina, meskipun berkali-kali diinvasi bangsa asing maupun saling menginvasi, mereka tetap mempertahankan identitasnya masing-masing sebagai bangsa tersendiri. Kasus Korea, mereka telah dipersatukan terlebih dahulu di tahun 57 SM oleh Dinasti Shilla.

  1. PERADABAN ASIA BARAT DAYA
  1. Peradaban Mesopotamia
Mesopotamia dalam pengertian geografis adalah wilayah yang terletak antara sungai Tigris dan Eufrat, terbentang dari kaki bukit Taurus-Armenia di utara sampai ke Teluk Persia. Wilayah ini di bagian barat dibatasi oleh padang pasir Syria, dan di bagian timur dibatasi oleh pegunungan Zagros. Wilayah Mesopotamia secara alami dibagi ke dalam dua bagian, yaitu Mesopotamia atas dan Mesopotamia Bawah atau Babilonia (dataran endapan tanah subur yang ada di selatan Bagdad modern. Pada masa itu Mesopotamia Atas memiliki dua pusat peradaban utama, satu berada di wilayah Eufrat Atas yang meliputi kota kota-kota tua, seperti Carchemish, Harran, Gozan, Khabur, dan Mari. Di wilayah ini berdiri kerajaan Hurrian di Mittani (abad 15 SM) dan kerajaan Amorite di Mari (abad 18 SM). Pusat-pusat yang lain adalah Tiggris Atas dekat kuala (tempat pertemuan air sungai Zab. Wilayah ini merupakan kerajaan Assyria dengan kota-kota utamanya, Assur, Ninevah, Calah, dan Dur Sharrukin. Mesopotamia Bawah, yang merupakan situs bangsa Sumeria dan Akkadia kuno, secara alami juga terbagi menjadi bagian utara dan selatan. Bagian utara terpusat di sekitar Babilon, yang meliputi kota-kota, seprti Eshnunna di Diyala, Sippar, Kutha, Kis, Borsippa, dan Isin di Eufrat. Di bagian selatan dalam terdapat kota-kota Sumeria lama, yaitu Eridu dan UR, yang memiliki akses ke Teluk Persia. Jauh ke utara terdapat kota-kota seperti Larsa, Uruk, Lagash, dan Umma. Nippur, yang berada di pusat negeri adalah sebagai pusat keagamaan Sumeria dan Akkadia. Tanah bagian selatan ini keadaannya berawa- rawa. Bangsa ini hidup 4000 SM dan dapat bertahan dengan melakukan drainase dan instalasi irigasi.

  1. Peradaban Babylonia Lama
Sebagaimana telah disinggung, bahwa kebesaran Akkadia runtuh dengan datangnya orang-orang Amoriah yang sama-sama Semit. Jadi Amoriah merupakan kelompok kedua bangsa Semit yang berhasil merebut supremasi politik di wilayah lembah Tigris dan Eufrat di bawah kepemimpinan
Hammurabi (1792-1750 SM). Hammurabi dikeal sebagai penguasa Babylonia dan penguasa dunia terbesar sepanjang sejarah kuno. Melalui sejumlah peperangan dan penaklukan, ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Setelah berhasil menyatukun seluruh wilayah bekas kekuasaan Sumeria-Akkadia, dia menamakan negeri ini Babylonia. Hamurabi adalah seorang administrator dan sekaligus legislator yang ulung. Dia berhasil merumuskan dan mengkondifikasikan hukum-hukum yang berlaku di Babylonia. Pada tahun 1901-1902, seorang ahli arkeolog Perancis yang bernama M. De. Morgan menemukan susa‟ (sebuah lempengan batu yang di atasnya bertuliskan hukum-hukum yang dirumuskan Hammurabi. Lempengan ini lalu disebut sebagai kitab hukum tertua. Kitab hukum ini berisi ketentuan mengenai hak-hak dan kewajiban seluruh warga masyarakat kerajaan Babylonia. Prinsip hukum yang terdpat di dalamnya adalah “hukuman mata untuk mata dan gigi untuk gigi”. Kitab hukum ini sangat besar pengaruhnya dalam penyusunan hukum bangsa Romawi, sedang hukum bangsa Romawi merupakan dasar penyususnan hukum bangsa Eropa modern. Undang-undang Hamurabi ini menunjukkan adanya struktur pemerintahan. Undang-undang ini diterapkan di sejumlah negara-kota Mesopotamia. Kira-kira pertengahan abad ke-17 SM, Hamurabi mengumpulkan beberapa kode hukum yang ada, kemudian dikompilasikan menjadi undangt-undang yang seragam dan digunakan di seluruh wilayah Imperium Babilonia. Sekalipun ada beberapa hukum yang tidak cocok menurut ukuran manusia modern, karena adanya perlakuan yang kasar terhadap hukum, namun undang-undang Hamurabi merupakan tahapan yang penting dalam perkembangan umat manusia. Dalam perjalanannya, kerajaan Hammurabi terancam oleh orang-orang pegunungan di Gutium. Hammurabi berusaha mencegah ancaman dari Gutium dengan cara menyerang, namun strategi ini tidak efektif. Hanya sepeuluh tahun seusai penaklukkan-penaklukkan Hamurabi, pada tahun kedelapan kekuasaan penerusnya, Samsuilun (pada tahun 1743 SM), orang-orang barbar Kassite yang turun dari Gutium untuk pertama kalinya melanggar batas Babylonia. Orang-orang barbar Kassite tampaknya telah mendirikan rezim di Babylonia sekitar tahun 1732. Setelah kematian Hammurabi, sejarah politik bangsa Babylonia tidak dikenal orang. Suku-suku kecil kemudian menguasai wilayah ini secara bergantian, sampai pada akhirnya seluruh wilayah ini ditaklukkan oleh bangsa Assyria.

  1. Peradaban Assyiria
Munculnya bangsa Assyria merupakan kisah baru dalam sejarah Iraq. Jadi bangsa Semit lainnya yang kekuasaannya mendominasi bagian utara wilayah Mesopotamia adalah bangsa Assyria. Negara kota baru yang tumbuh dan disuplai air dari sungai Tigris meliputi Ashur, Arbela, Nimrud (atau Calah), dan Nineveh. Sejarah Assyria pada dasarnya merupakan kisah raja-raja. Melalui pertumpahan darah, mereka menaklukkan negara demi negara, dan akhirnya mereka berhasil mendirikan kerajaan Assyria yang kuat. Lantaran kekejaman mereka dalam medan peperangan, membuat mereka sering dijuluki sebagai momok atau hantu. Dalam setiap peperangan, mereka selain menjarah juga membantai kehidupan, dan dengan cara demikian ini mereka merasakan kepuasan. Diketahui, Assyria muncul pada abad ke-14 SM sebagai sebuah kekuasaan militer. Sekitar tahun 932-745, Assyria mulai melancarkan agresinya terhadap tetangga-tetangganya. Selama tahun 932-859 SM, Assyria menaklukkan komunitas- komunitas Aramaen yang telah hidup mapan di sebelah timur sungai Eufrat, persis di ambang pintu barat wilayah Assyria. Pada tahun 858-856 SM, Shalmaneser III membawa tentara Assyria memasuki Syria dengan menaklukkan Bit Adini, sebuha negara Aramaen yang mengangkangi tonjolan barat sungai Eufrat.
Pada tahun 853 SM, Shalmaneser III menderita kekalahan dari koalisi di Qarqar di sungai Orontes sebelah utara Hamath (Hamah). Dia kembali menginvansi Syria pada tahun 849, 848, dan 845 SM. Karena lemahnya koalisi anti-Assyria, maka pada 841 SM dapat memukul Damaskus dan memaksa bekas sekutu Damaskus untuk mengakui kekuasaan Assyria. Namun demikian, Shalmaneser III menderita kekalahan di Urartu, dan pada tahun 831 SM dia digulingkan oleh sebuah pemberontakan dalam negeri, dan akhirnya meninggal pada tahun 824 SM. Demikian pula, pemberontakan ini melumpuhkan penerusnya. Shamshi-Adad V, sampai tahun 822 SM. Orang-orang Urartu yang telah bersatu dalam sebuah negara yang kuat berhasil menyaingi Assyria selama kekuasaan Raja Argistis I (785-753 SM) yang memerintah Syria utara dan Sisilia timur. Pada tahun 745 SM, daerah-daerah penting dan strategis ini berada di bawah kendali orang-orang Urartu, bukan Assyria.
Dalam proses sejarah diceritakan bahwa pada pergolakan tersebut, penguasa kota Assyria, Nineveh dan Arbela memberontak bersama dengan beberapa provinsi. Pada 746 SM, ibukota Kalkhu bergolak yang mengakibatkan Raja Asshurnirari V terbunuh, dan tahta ditempati pada tahun 745 oleh seorang pria yang tak dikenal asal-usulnya dab berpura-pura bernama Tiglath-Pileser III. Selanjutnya, Shalmaneser V, pengganti Tiglath-Pileser II, telah digantikan oleh seorang raja dari keluarga yang berbeda, yang dikenal dengan nama Sargon II. Pada masa Sargon II inilah kerajaan Assyria mendapatkan pencerahan kembali. Sargon II (722-705 SM) merupakan salah seorang raja yang kejam. Pada tahun 722 SM, dia menaklukkan Samaria, ibukota kerajaan Israel, dan menahan pembesar-pembesar dari sepuluh bangsa Israel. Para tahanan ini dikenal sebagai “sepuluh tahanan yang hilang”, karena keadaan nasib mereka tidak pernah diketahui lagi. Sennacherib, putra Sargon II, merupakan raja penakluk ulung. Ia berhasil menaklukkan Babylonia, menguasai Mesir dan Syria. Asshurbanipal (668-626 SM), sebagai cucu Sargon II, merupakan raja Assyria yang terbesar. Hampir seluruh Asia Barat tunduk pada kekuasaannya. Setelah kematiannya kerajaan Assyria menurun secara drastis. Bangsa Assyria asli musnah disebabkan oleh perang yang terjadi terus menerus dan karena wajib militer bagi tenaga laki-laki sebagai pekerja di koloni bangsa Assyria dan menjadi pasukan yang ditempatkan di dalam suatu negara yang telah ditaklukkan. Kekosongan di wilayah tempat tinggal penduduk Assyria dipenuhi oleh pengungsian orang asing yang masuk, sampai jumlah penduduk dari Assyria menjadi semi orang-orang Armenia. Selain itu, ketegangan sosial yang terjadi memaksakan penduduk Assyria untuk terus menerus berpindah untuk meningkatkan jarak yang akan memancing ketidak teraturan politik dalam negeri. Pada akhirnya di tahun 612 SM Nineveh, ibu kota kerajaan Assyria diserbu dan ditaklukkan oleh Aryan Medes dari Persia. Dengan peristiwa ini berakhirlah kekuasaan kerajaan Assyria. Basis ekonomi Assyria adalah sabuk tanah agrikultural yang kaya di wilayahnya sendiri antara tepi kiri sungai Tigris dan kaki barat daya dataran Zagros. Jantung Assyria ynag subur ini lebih luas daripada tanah agrikultur di sekitar Napata yang menjadi basis ekonomi bagi kekuasaan militer Kush, namun jauh lebih kecil dibandingkan dengan tanah pertanian di Babylonia. Tidak seperti Babylonia dan Kush, Assyria sangat bergantung pada bukan irigasi, tetapi curah hujan untuk tanaman agrikultur. Peradaban Assyria banyak terpengaruh oleh peradaban Babylonia. Dengan mengambil peradaban bangsa lain, bangsa Assyria mengembangkan peradabannya hingga hampir ke seluruh penjuru dunia. Sekalipun demikian, mereka tidak sekedar menjiplak peradaban bangsa lain. Sumbangan peradaban mereka yang asli adalah dalam bidang seni pahat, arsitektur, dan seni lukis. Sennacherib telah merubah ibukota Nineveh menghiasinya menjadi kota yang sangat indah, sehingga berkat keindahannya menjadikan kota ini dijuluki sebagai kota matahari. Sebagian raja-raja Assyria adalah kaum terpelajar dan sangat mencintai kepustakaan. Ashurbanibal merupakan seorang raja yang mendirikan sebuah perpustakaan dengan berbagai kumpulan buku-buku yang luar biasa. Perpustakaan ini dipandang sebagai satu-satunya peninggalan bangsa Semit yang terpenting. Seringkali bangsa Assyria dipandang sebagai bangsa “Romawinya- Asia”. Lantaran sebagaimana bangsa Romawi, Assyria juga berhasil mendirikan kekuasaan yang luas. Jika bangsa Romawi mengambil peradaban Yunani yang ditaklukkannya kemudian mengembangkan dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia, demikian juga bangsa Assyria. Mereka mengambil alih peradaban Babylonia, mengembangkannya dan kemudian menyebarkannya ke seluruh wilayah kekuasaannya. Sebagaimana bangsa Romawi, Assyria juga memperkenalkan sistem sentralisai administrasi pemerintahan. Wilayah-wilayah propinsi dikuasakan kepada seorang kepala wilayah yang bergelar gubernur yang bertanggung jawab secara langsung kepada raja. Mereka membangun sejumlah jalan raya untuk memperlancar perhubungan wilayah-wilayah kekuasaannya yang berjauhan. Warisan kerajaan Assyria berupa alfabet Phoeic dan bahasa versi Armenia. Dalam hal ini alfabet Phoeic sebagai sarana bahasa Armenia. Untuk menulis alfabet dan bahasa armenia labih mudah dan lebih cepat karena ditulis di atas daun lontar dibanding menuliskan di lembaran tanah liat versi Sumeria pada masa Akkadia. Sebuah bas-relief dari istana Sennacherib pada Nineveh melukiskan dua pelajar Assyria berdiri berdampingan.

  1. Peradaban Babylonia Baru
Setelah kekuasaan Assyria mengalami kehancuran dengan matinya raja Asshurbanipal pada tahun 626 SM, bangsa Babylonia bangkit kembali di bawah kekuasaan dinasti Chaldean atau dinasti Babylonia baru (625-538 SM). Pendiri dinasti ini adalah Nabopolassar. Pada masanya, daerah sampai perbatasan Mesir dapat ditaklukkan, mengalahkan Raja Yahudi, Hebrew, dan secara bengis menaklukkan kota Yerusalem pada tahun 586 SM.
Pada pertengahan abad ke-6 SM, kekuasaan Babylonia-Chaldean ini dikalahkan oleh bangsa Persia. Bangsa Babylonia menyembah banyak Tuhan, yakni dewa-dewa alam. Marduk merupakan dewa mereka yang terbesar, sedangkan Isthar diyakini sebagai dewa kasih sayang. Bentuk utama keyakinan mereka adalah kepercayaan terhadap-roh-roh jahat. Mereka juga mempercayai ramalan dari langit dan bintang-bintang mengenai suatu peristiwa yang terjadi. Para ahli nujum Chaldean mahir dalam bidang perbintangan, sehingga mereka tersohor ke penjuru dunia. Sejarah peradaban dunia mencatat, bahwa bangsa Babylonia sangat besar peranannya. Bangsa ini melahirkan banyak pakar dan tenaga ahli dalam bidang pertanian. Mereka menggali sejumlah sungai unruk keperluan pengairan pertanian di musim kemarau. Selain itu, mereka juga membuat bendungan untuk melindungi pertanian mereka dari ancaman banjir di musim hujan. Dalam bidang industri dan perdagangan, bangsa ini telah mencapai kemajuan. Para pedagang ini menciptakan sistem timbangan dan takaran. Lebih kurang selama dua ribu tahun, negeri Babylonia menjadi pusat perdagangan dan perniagaan wilayah lembah sungai Tigris-Eufrat. Pada saat itu bangsa Babylonia telah mengenal ragam tulisan yang dinamakan cuneiform. Sistem ini dipandang lebih maju daripada tulisan bangsa Mesir Kuno. Bangsa Babylonia menggunakan 400-500 simbol suku kata. Tidak diketahui apakah mereka telah menggunakan kertas, tetapi biasanya menggunakan lempengan-lempengan sebagai media tulis.

Dalam bidang ilmu pengetahuan, Bangsa babylonia telah banyak mencapai kemajuan. Kemajuan mereka dalam ilmu astronomi mengungguli kemajuan bangsa Mesir. Pengetahuan mereka dalam bidang astronomi berawal dari hasrat mereka dalam bidang astrologi. Mereka membagi zodiak ke dalam dua belas simbol dan menyebutkan kedudukan masing-masing. Mereka mampu meramalkan terjadinya gerhana matahari dan juga bulan. Demikian pula mereka menggunakan sistem kalender yang lebih maju dibanding bangsa Mesir. Mereka membagi bilangan tahun menjadi dua belas bulan, membagi malam dan siang menjadi bilangan jam, dan membagi tujuh bilangan hari dalam satu minggu. Dalam bidang matematika peran mereka juga sangat besar. Hitungan inilah yang pada akhirnya dijadikan sebagai rujukan sistem hitungan modern.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUITIS??? (Reaching Ambition and My Dreams)