Sejarah Kelas X
1. Penulisan
Sejarah Nasional / Historiografi Nasional
Model
penulisan sejarah seperti ini dikenal dengan sebutan penulisan sejarah indonesiasentris yang dimana kedudukan
bangsa indonesia ditempatkan sebagai pemeran utama.
Tonggak
kebangkitan historiografi indonesia dimulai pada tahun 1957 dengan diadakannya
Seminar Nasional Sejarah Pertama di Yogyakarta. Seminar Sejarah Nasional 1
berlangsung pada tanggal 14 – 18 Desember 1957 di Yogyakarta. Seminar ini
dilaksanakan melalui Keputusan Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan
tanggal 13 Maret 1957 No.28201/5.
Menurut
Moh. Ali, forum Seminar Sejarah Nasional belum mengarah pada penulisan dan
pengajaran sejarah indonesia sebagai Sejarah Nasional. Dapat dimaklumi karena
pada saat itu belum banyak ahli sejarah.
Seminar
Sejarah Nasional Kedua di Yogyakarta pada tahun 1970. Sudah mengarah kepada
periodisasi Sejarah Indonesia, mulai dari periode prasejarah sampai dengan
periode yang paling modern.
Seminar
kedua Sejarah Nasional, mengusulkan perlunya penulisan buku sejarah nasional.
Hal itu untuk kepentingan pengajaran di sekolah.
Upaya
untuk memantapkan penulisan sejarah Indonesia dilaksanakan dengan
menyelenggarakan kembali seminar sejarah nasional. Seminar ini berlangsung di
Jakarta pada tanggal 10-15 November 1981, dan Seminar Sejarah nasional yang
keempat di Yogyakarta pada tanggal 16-19 Desember 1985. Kongres Nasional
Sejarah kembali dilaksanakan di Jakarta dari tanggal 14-17 November 2006.
Supaya
penulisan sejraha memenuhi kriteria indonesiasentris, syarat-syarat yang harus
dipenuhi diantaranya adalah objek sejarah nasional yang meliputi berbagai aspek
dengan menggunakan pendekatan multidimensional, baik aspek ekonomi, ideologi,
sosial budaya, maupun sistem kepercayaan.
2. Penulisan
Sejarah Masa Kolonial / Historiografi Kolonial
Awal
perkembangan historiografi modern di Indonesia, dimulai saat penjajahan
Belanda. Oleh sebab itu, masa ini masih kita sebut sebagai historiografi
kolonial meski sudah memasuki masa modern. Perkembangan penulisan pada masa
ini, tidak lepas dari peranan Dr. FW. Stapel bersama teamnya. Buku pertama yang
meraka tulis adalah Geschedenis van
Nederlandsch Indie (Sejarah Hindia Belanda).
Pendekatan
penulisan sejarah pada masa ini, sangat dipengaruhi oleh latar belakang
penulisnya. Hal yang banyak diceritakan lebih kepada sejarah penjajahan orang
Belanda di Indonesia. Aspek-aspek yang positif lebih banyak ditekankan pada
orang Belanda. Penulisan sejarah yang demikian disebut dengan pendekatan
neerlandosentris, yaitu penulisan sejarah yang dilihat dari peran orang Belanda
(penjajah).
3. Penulisan
Sejarah Tradisional / Historiografi Tradisional
Penulisan
sejarah dipicu oleh pertanyaan dalam diri manusia atau masyarakat tentang jati
diri dan asal-usulnya. Sebagian orang mulai menuliskan dan mendokumentasikan
berbagai peristiwa yang terjadi dalam bentuk naskah. Sebutan lain untuk
naskah-naskah, yaitu babad,hikayat,kronik,tambo,dan lain-lain.
Berkembangnya
historiografi tradisional seiring dengan kesadaran nenek moyang kita akan
pentingnya sejarah. Mereka sadar, jika tidak mempunyai catatan akan sulit
mencerityakan masa lalu kepada generasi selanjutnya. Jika generasi selanjutnya
tidak mengetahui sejarahnya, ditakutkan mereka tidak mengetahui jati dirinya.
Meski sudah tercatat, namun historiografi tradisional tidak terlalu
mementingkan kebenaran fakta. Apabila sejarah hanya sekedar cerita tanpa fakta,
berarti itu bukan suatu kenyataan. Pendek kata, itu hanyalah sebuah fiksi. Agar
kita mudah membedakan apakah fakta itu benar atau tidak, perhatikanlah sumber-sumber
yang dijadikan rujukan cerita tersebut. Setiap rujukan harus masuk akal. Meski
demikian, historiografi tradisional yang bersifat fiksi harus kita maklumi.
Pada masa itu, alam pikiran masyarakat belum bersifat rasional dan objektif.
alam pikiran masyarakat pada waktu itu, masih bersifat magis-religius.
Masyarakat masih mempercayai bahwa kehidupan manusia sangat ditentukan oleh
kekuata-kekuatan di luar manusia, seperti alam, para dewa, dan benda-benda yang
dianggap sakral. Mereka masih percaya, bahwa manusia tidak mampu mengubah diri
oleh dirinya sendiri.
Dya
faktor yang memengaruhi historiografi tradisional. Pertama, corak sejarah yang
bersifat istana sentris dengan tujuan mencatat peristiwa sejarah yang bisa
memberikan legitimasi yang kuat terhadap penguasanya dengan menampilkan
unsur-unsur kepahlawanan dan kesaktiannya. Keuda, ialah penyampaian dalam
bentuk legenda, mitos, dan faktor yang menampilkan tokoh-tokoh lokal.
4. Penulisan
Pasca Kemerdekaan
Penulisan
sejarah pada masa ini berorientasi pada masa depan bangsa dan negara indonesia
yang telak diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Dalam penulisan masa ini,
berusaha diungkapkan tentang sejarah yang pernah terjadi dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara indonesia. Hal ini bertujuan agar dengan memahami sejarah
yang penuh penindasan dan keterbelakngan, bangsa indonesia terangsang untuk
bahu-membahu mengisi kemerdekaan. Selain itu juga bertujuan agar pengalaman
buruk yang dialami oleh bangsa indonesia di masa lampau tidak terulang lagi
dikemudian hari.
5. Penulisan
Masa Pergerakan
Tujuan
penulisna sejarah pada masa ini untuk membangkitkan semnagat juang para pejuang
dalam usaha membebaskan diri dari penindasan kaum penjajah. Dengan
tulisan-tulisan ini rakyat indonesia menyadari dirinya merupakan bangsa yang
tertindas. Perasaan ketertindasan ini membangkitkan semangat berjuang untuk
membebaskan diri.
6. Sumber
Sejarah Tertulis
Sumber
keterangan tertulis yang berkaitan dengan peristiwa sejarah yang diperoleh
melalui peninggalan tertulis yang mencatat peristiwa yang terjadi pada masa
lampau. Misalnya, piagam, naskah, arsip yang banyak tersimpan di Arsip Nasional
prasasti yang tersimpan di museum.
7. Sumber
Sejarah Benda
Yang
diperoleh dari peninggalan benda-benda kebuyaan masa lampau. Seperti alat dari
batu, senjata, perhiasan, candi, gedung, dan hasil budaya lainnya.
8. Sumber
Sejarah Primer
Disebut
juga sumber utama berupa fosil, prasasti, kronik, dan juga saksi sejarah
- Langkah-Langkah
Metode Penulisan Sejarah
1. Pemilihan
Topik
Para
sejarawan memerlukan informasi awal mengenai adanya peristiwa sejarah di suatu
tempat. Informasi ini bisa didapatkan melalui hasil pengamatan peneliti sendiri
dan dari masyarakat melalui berbagai jejak sejarah yang ditinggalkan, misalnya
mitos atau legenda.
Tema-tema/jenis-jenis
sejarah:
·
Sejarah
lokal bertujuan menyajikan peristiwa yang hanya terjadi pada satu daerah saja
dan tidak menyebarkannya pada daerah lain, atau singkat kata sebagai sejarah
khusus tentang peristiwa pada satu daerah saja. Tujuan penulisan sejarah lokal
adalah untuk mengkaji asal usul, perkembangan, dan berbagai peristiwa yang
terjadi pada daerah serta bisa memunculkan tokoh-tokoh lokal yang
memperjuangkan daerahnya dan menjadi kebanggaan masyarakat di sana.
·
Sejarah
Nasional mengkaji peristiwa-peristiwa dalam lingkup suatu negara sejarah ini
mempunyai pengaruh terhadap kehidupan sosial, ekonomi, poliitik, dan budaya
suatu bangsa. Tujuannya untuk mendokumentasikan seluruh peristiwa sejarah agar
masyarakatnya mengetahui sejarah bangsanya, sehingga suatu bangsa mempunyai identitas
dan karakter nasional.
·
Sejarah
dunia membahas peristiwa-peristiwa yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan
masyarakat internasional atau dunia.
·
Sejarah
geografi mempelajari masa lampau yang mempunyai waktu berurutan dan
berhubungannya dengan peristiw-peristiwa manusia pada suatu ruang (lokasi suatu
tempat).
·
Sejarah
ekonomi adalah untuk mengungkapkan perilaku ekonomi manusia menyangkut
sejarahnya.
·
Sejarah
Ketatanegaraan dan Politik Pemerintah
·
Sejarah
sosial mengkaji sejarah kegiatan manusia di masyarakat dengan interelasi ilmu
sosial yang menitikberatkan manusia sebagai objeknya. Kajian sejarah sosial
meliputi sejarah manusia dengan segala aspek kehidupannya, gejala dan masalah
sosial, serta pengkajian sebab-sebab terjadinya gejala.
2. Heuristik
dalam Sejarah
Heuristik merupakan upaya pengumpulan
berbagai data, fakta, dan sumber sejarah sebagai bahan untuk menganalisis dan
mengungkapkan berbagai peristiwa pada masa lampau.
3. Vervikasi
dalam Sejarah
Vervikasi ialah tahap pemeriksaan dan
pengujian terhadap kebenaran laporan sejarh yang masuk. Tahap ini diperlukan
untuk meneliti kembali dat-data yang masuk.
Pengujian
dari segi materi, atau isi, maupun keasliannya disebut kritik.
4. Interpretasi
dalam sejarah
Interpretasi, merupakan tahap penafsiran
terhadap sumber-sumber sejarah dan memberikan pandangan teoretis terhadap
peristiwa yang terjadi.
Pada
tahap ini, para sejarawan memberikan pendapat-pendapat tentang arti dari
peninggalan-peninggalan itu sehingga kejadian masa lalu dapat terungkap mulai
dari penyebab kejadiannya, tempat, tahun, proses dan akibat dari kejadian itu.
5. Tahap
Historiografi
Tahap
terakhir dari penelitian sejarah ialah penulisan berbagai peristiwa sejarah
telah diuji melalui tahapan penelitian ke dalam kisah-kisah sejarah.
- Kitab Sastra
Kitab merupakan catatan tertulis
hasil karya para pujangga yang dapat kita jadikan sumber sejarah untuk
mengungkapkan masa lalu. Penulisan kitab pada mas itu seringkali hanya berupa
cerita-cerita kegagahan para penguasa saja. Meski demikian, banyak hal yang
bisa diambil. Contoh kitab yang ditulis pada masa lalu adalah sebagai berikut.
1)
Kitab
Sang Hyang Kamahayanikan, yang
berasal dari Kerajaan Medang Kamulan.
2)
Kitab
Pararaton berasal dari Kerajaan
Singasari.
3)
Kitab
Negara Kertagama, berasal dari
Kerajaan Majapahit karya Empu Prapanca.
4)
Kitab
Sutasoma, berasal dari Kerajaan
Majapahit karya Empu Tantular.
Selain bercorak Hindu-Buddha,
banyak lahir pula karya sastra pada periode islam, yaitu, seperti di bawah ini.
1)
Babad,
seperti Babad Tanah Jawi, Babad Giyanti, dan Babad Negeri Kedah.
2)
Suluk,
seperti Suluk Sukarasa, Suluk Wujil, dan Suluk Malang Sumirang.
3)
Hikayat,
seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Jauhar Manikam, Panji, dan sebagianya.
- Pengaruh India
di Bidang Sosial
Prasasti-prasasti
yang berhasil ditemukan di beberapa wilayah di indonesia menyebutkan bahwa
masyarakat indonesia sejak abad pertama Masehi banyak menerima pengaruh dari
India. Pada abad ke-4 M, masyarakat indonesia yang telah menerima pengaruh dari
India, mulai mendirikan kerajaan-kerajaan yang teratur dan rapi sesuai dengan
pemerintahan di India.
Melalui
prasasti-prasasti tersebut diketahui pula tentang kehidupan sosial masyarakat
indonesia, yang mengikuti perkembangan zaman. Hal ini terjadi karena masyarakat
indonesia terbuka terhadap unsur-unsur yang datang dari luar, walau
perkembangannya selalu disesuaikan dengan tradisi bangsa Indonesia.
Selain
itu mulai diterapkan hukuman terhadap para pelanggar peraturan atau
undang-undang. Hukuman mulai diberlakukan, dari yang paling ringan sampai
paling berat. Pemberlakuan hukuman ini menunjukkan bahwa masyarakat tersebut
sudah teratur dan tertata rapi.
- Kepercayaan
Nenek Moyang Indonesia Sebelum Masa Hindu-Budha
Sistem kepercayaan dalam
masyarakat Indonesia diperkirakan mulai tumbuh pada masa berburu dan
mengumpulkan makanan. Munculnya sistem kepercayaan ini dilatarbelakangi oleh
kesadaran akan adanya jiwa yang bersifat abstrak. Di dalam pikiran manusia,
jiwa itu ditransformasikan menjadi makhluk halus.makhluk halus itu mendapat
perlakuan istimewa dan tempat yang amat penting dalam kehidupan, sehingga
dijadikan objek pemujaan. Selain itu, suatu kepercayaan dapat muncul karena
getaran jiwa atau emosi yang muncul karena kekeaguman manusia terhadap hal-hal
luar biasa.
- Animisme
- Dinamisme
- Pemujaan terhadap roh nenek moyang/roh leluhur
- Prasasti Kutai,
Tarumanegara, Sriwijaya
Ø
Prasasti Kerajaan Kutai
Berupa
7 buah Yupa (tugu batu). Yupa adalah tugu batu peringatan upacara kurban. Jenis
huruf yang tertera pada Yupa adalah huruf Pallawa. Sedangkan bahasa yang
digunakan adalah bahasa sansekerta.
o
Informasi
yang dapat diketahui dari prasasti-prasasti kutai, antara lain:
ü Raja pertama yang memerintah
kutai adalah Kudungga nama itu jelas bukan nama Hindu. Melainkan nama Indonesia
asli.
ü Raja Kudungga mempunyai putra
bernama Asmawarman dalam salah satu prasasti Asmawarman disebut sebagai Van
Sakarta, artinya pembentuk keluarga (dinasti). Berdasarkan nama dan gelarnya,
bisa dipastikan kerajaan kutai bercorak Hindu.
ü Raja Asmawarman mempunyai 3 putra
yang terkenal adalah Mulawarman.
Ø
Prasasti Kerajaan Tarumanegara
o
Beberapa
prasasti dari kerajaan Tarumanegara, antara lain:
§ Prasasti Ciaruteun
Prasasti
ini ditemukan di Muara Sungai Cisande. Prasasti ini ditulis dalam sebuah batu
besar disertai cap sepasang telapak kaki terjemahan tulis itu berbunyi “ini
bekas sebuah kaki yang seperti kaki dewa wisnu ialah kaki yang mulia Purnawarman,
raja negeri taruma yang gagah berani di dunia”.
§ Prasasti Tugu
Ditemukan
di daerah Tugu, Jakarta Utara. Prasasti ini merupakan peninggalan dari kerajaan
Tarumanegara yang terpajang dan terpenting, isinya antara lain tentang
panggilan sebuah saluran sepanjang 6.112 tombak (lebih kurang 11 km) yang
bernama Gomati. Panggilan itu dilakukan pada tahun ke-22 pemerintahan
Purnawarman. Pekerjaan diselesaikan dalam waktu 21 hari setelah selesai
diadakanlah selamatan dimana raja memberikan hadiah 1.000 ekor sapi kepada para
Brahmana.
§ Prasasti lebak
Ditemukan
pada tahun 1947. Prasasti ini hanya terdiri atas dua baris kalimat. Corak
tulisan mirip dengantulisan pada Prasasti Tugu. Isinya memuji kebesaran dan
keagungan Raja Purnawarman
Ø
Prasasti Kerajaan Sriwijaya
Prasasti-prasasti
Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Sumatera Selatan dan Bangka semua
menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno. Prasasti-prasasti tersebut
antara lain sebagai berikut:
§ Prasasti Kedudukan Bukit
Isi
prasasti ini menyatakan bahwa Dapunta Hyang mengadakan perjalanan suci sidhayarta dengan perahu dan membawa
2.000 orang. Dalam perjalanan tersebut ia berhasil menaklukkan beberapa daerah.
§ Prasasti Talang Tuwo
Isi
prasasti menyatakan pembuatan taman Sriksetra. Taman itu dibuat oleh Dapunta
Hyang untuk kemakmuran semua makhluk.
§ Prasasti Telaga Batu
Prasati
ini berisi kutukan bagi rakyat yang melakukan kejahatan dan tiidak taat pada
perintha raja.
§ Prasasti Kota Kapur
Isi
prasasti ini menyatakan usaha Kerajaan Sriwijaya untuk menaklukkan kerajaan di
Jawa yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya.
§ Prasasti Karang Berahi
Isinya
prasasti ini menyatakan permintaan kepada dewa agar menjaga Kerajaan Sriwijaya
dan menghukum setiap orang yang ingin berbuat jahat.
- Jejak-jejak
Sejarah
1. Folklor
2. Mitologi
Mitos atau mite adalah cerita prosa rakyat yang tokohnya para dewa atau
orang-orang yang dianggap dewa. Namun, cerita ini dianggap benar-benar terjadi
oleh yang empunya atau penganutnya.
Ahli
filsafat Yunani, Aristoteles sering menggunakan mitos sebagai alat untuk
mengetahui asal-usul kehidupan masyarakat Yunani pada masa lalu. Akhirnya, mite
menjadi mitologi atau ilmu tentang mite/mitos.
Untuk
kepeantingan penulisan sejarah, mitos harus dianggap sebagai sebuah kepercayaan
masyarakat tentang hubungan mereka dengan lingkungannya dalam bentuk lambang.
Hercules dalam mitologi Yunani merupakan sebuah lambang kepahlawanan dan
kekuatan manusia menghadapi alam dan lingkungannya. Dalam masyarakat Jawa
terdapat mitos Nyi Loro Kidul sebagai penguasa Laut Selatan Jawa.
3. Legenda
Legenda
adalah cerita prosa yang ciri-cirinya mirip mitologi dan dianggap pernah
benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci yang menjadi tokoh dalam
legenda adalah manusiia yang memiliki sifat-sifat yang luar biasa yang dibantu
oleh makhluk gaib.
Jan
Harold Bruvand menggolongkan legenda menjadi empat kelompok, yaitu:
A.
Legenda
Keagamaan
Legenda
keagamaan adalah legenda orang-orang yang dianggap suci atau soleh. Cerita-cerita
tersebut dikenal sebagai hagiografi (legend of the saint) yang berarti cerita
mengenai orang-orang suci. Salah satu contohnya adalah legenda Wali Songo
B.
Legenda
Alam Gaib
Legenda
semacam ini biasanya berbentuk kisah yang dainggap benar-benar terjadi dan
pernah dialami seseorang. Fungsi legenda semacam ini adalah untuk meneguhkan
kebenaran takhayul atau kepercayaan rakyat.
Contoh
: adanya genduruwo ataupun sundel bolong
C.
Legenda
Perorangan
Legenda
perorangan merupakan cerita mengeani tokoh-tokoh tertentu yang dianggap
benar-benar terjadi. Di Indonesia legenda semacam ini banyak sekali. Di Jawa
Timur yang paling terkenal adalah legenda tokoh Panji.
D.
Legenda
Setempat
Legenda
setempat adalah cerita yang berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat dan bentuk
topografi, yaitu bentuk permukaan suatu tempat yang berhubungan dengan nama
suatu temapat misalnya legenda Kuningan. Kuningan adalah nama suatu kota kecil
yang terletak di lereng Gunung Ceremai, di sebelah selatan kota Cirebon, Jawa
Barat.
4. Upacara
Upacara
adalah rangkaian atau perbuatan yang terikat pada aturan-aturan tertentu
berdasarkan adat istiadat, agama ataupun kepercayaan. Jenis-jenis upacara yang
dikenal dalam kehidupan masyarakat antara lain, sebagai berikut.
A.
Upacara
Penguburan
B.
Upacara
Perkawinan
C.
Upacara
Pengukuhan Kepala Suku
D.
Upacara
Sebelum Perang
5. Dongeng
Dongen
adalah cerita pendek kolektif, merupakan kesusastraan lisan dan tidak dianggap
benar-benar terjadi. Contohnya “Bawang Merah dan Bawang Putih”. Isi dongeng
hanya bertujuan untuk hiburan, pelajaran, kebenaran, dan sindiran. Ada dua
macam dongeng, yaitu dongeng binatang dan dongeng biasa.
6. Lagu
Lagu
merupakan syair-syair yang dikembangkan dengan irama yang menarik. Lagu bisa
menjadi sarana curahan hati orang yang membuat lagu atau syair lagu. Karena
itu, lagu-lagu yang dikembangkan bisa bernuansa sedih, gembira ataupun nasehat.
Setiap
daerah juga memiliki lagu-lagu daerah yang berisi ajaran moral dan budaya,
keadaan geografis, serta cara bercocok tanam dan mengolah tanah. Isi lagu-lagu
daerah tersebut dapat dikritisi oleh sejarawan untuk menggambarkan sisi budaya
masyarakat yang diteliti.
- Folklore
Kata
folklor merupakan serapan dari bahasa Inggris yaitu, folklore yang artinya
cerita rakyat. Jadi dolklor ialah bagian dari kebudayaan yang diebarkan dan
diwariskan secara tradisional, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang
disertai gerak isyarat.
·
Ciri-ciri Folklor
1.
Menjadi
milik bersama dan kolektif tertentu.
2.
Penyebaran
dan pewarisannya dilakukan secara lisan.
3.
Bersifat
anonim artinya penciptanya tidak diketahui
4.
Hadir
dalam versi-versi bahkan variasi-variasi yang berbeda.
5.
Bersifat
tradisional yakni desebarkan dalam bentuk relatif tetap atau standar.
Jan
Harold Brunvand, seorang ahli folklor Amerika Serikat, membagi folklor ke dalam
tiga kelompok besar berdasarkan tipenya, yaitu :
·
Bentuk-bentuk Folklor
1) Folklor
Lisan
Folklor
yang diciptakan dan disebarluaskan dalam bentuk lisan, seperti bahasa,
teka-teki, dan sebagianya. Jenis ini dikenal juga sebagai fakta mental
(mentifact) yang meliputi sebagai berikut.
A. Bahasa rakyat seperti logat
bahasa (dialek), dlang, bahasa tabu, onomatis
B. Ungkapan tradisional seperti
pribahasa dan sindiran
C. Pertanyaan tradisional yang
dikenal sebagai teka-teki
D. Sajak dan puisi rakyat
E. Cerita prosa rakyat. Menurut
William R. Bascom, cerita prosa rakyat dapat dibagi ke dalam tiga golongan
besar, yaitu mite (myth), legenda (legend), dan dongeng (folktale). Seperti
SiPahit Lidah dari Suamtera Selatan dan juga Malin Kundang dari Sumatera Barat
F. Nyanyian rakyat, seperti Tombo
Ati
2) Folklor
Sebagian lisan.
Folklor
ini dikenal juga sebagai fakta sosial (sosiofact), meliputi sebagai berikut.
A. Kepercayaan dan takhyul
B. Permainan dan hiburan rakyat
setempat
C. Teater Rakyat, seperti Dulmuluk,
Lenong
D. Adat kebiasaan, gotong royong
dalam pembangunan rumah atau pesta keselamatan
E. Pesta rakyat tradisional, seperti
bersih desa setelah panen.
3) Folklor
Bukan Lisan
Folklor
Bukan Lisan adalah folklor dalam bentuk benda-benda hasil kebudayaan manusia. Folklor
ini dikenal juga sebagai artefa (artifact) meliputi sebagai berikut.
A. Arsitektur bangunan rumah
tradisional, spserti rumah Limas Palembang
B. Seni kerajinan tangan tradisional
C. Pakaian tradisional
D. Obat-obatan
E. Alat musik tradisional
F. Peralatan dan senjata khas
tradisional
- Ciri-Ciri
Sejarah Sebagai Ilmu
·
Empiris
Empiris berasal dari
kata Yunani, yaitu empiria yang
berarti pengalaman.
·
Memiliki Objek
Sebuah ilmu harus
memiliki tujuan sendiri.ketika tujuan sudah diteteapkan, maka sebuah ilmu akan
dibatasi oleh objek material (sasaran yang jelas). Kata objek berasal dari
bahasa Latin, yaitu objektus, artinya
yang dihadapi, sasaran, dan tujuan.
·
Memiliki Teori
Dalam bahasa Yunani,
theoria berarti renungan. Teori merupakan pendapat yang dikemukakan untuk
menjelaskan mengenai suatu peristiwa atau kejadian.
·
Memiliki Metode
Metode berasal dari bahasa
Yunani, yaitu methodos yang berarti cara. Dalam ilmu pengetahuan, metode
berfungsi sebagai pendekatan atau cara yang dipakai dalam penelitian. Metode
sejarah berusaha mencari hukum-hukum yang memengaruhi kehidupan manusia dan mencari
penyebab perubahan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat.
- Pengertian
Sejarah Moh. Hatta, Ibnu Khaldun, Heredotus, Muh. Yamin
·
Moh. Hatta
Sejarah
dalam wujudnya memberikan pengertian tentang masa lampau. Sejarah bukan sekadar
melahirkan ceritera dari kejadian masa lalu sebagai masalah. Sejarah tidak
sekadar kejadian masa lampau, tetapi pemahaman masa lampau yang di dalamnya
mengandung berbagai dinamika, mungkin berisi problematika pelajaran bagi
manusia berikutnya.
·
Ibnu Khaldun
Catatan
tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia, tentang
perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat
·
Heredotus
Sejarah
tidak berkembang ke arah depan dengan tujuan yang pasti melainkan bergerak
seperti garis lingkaran yang tinggi rendahnya diakibatkan oleh keadaan manusia.
·
Muh. Yamin
Suatu
ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang
dapat dibuktikan dengan kenyataan.
Komentar
Posting Komentar